Newbie Tracker 4: Gunung Guntur

Gunung Guntur, berdiri di wilayah barat Kabupaten Garut, Jawa Barat, memiliki ketinggian 2.249 meter di atas permukaan air laut merupakan gunung vulkanik yang pernah aktif pada dekade 1800-an (sumber: wikipedia). Perjalanan ini mulai saya inisiasi setelah libur lebaran 2013 dan saya eksekusi dua minggu kemudian tanggal 23 – 24 Agustus 2013. Medan Gunung Guntur didominasi oleh padang ilalang tinggi dan sedikit hutan pinus di bagian kaki gunungnya. Di sebelahnya terdapat deretan pegunungan lain yang rimbun tertutup hutan, bertolak belakang dengan Gunung Guntur. Yang unik lagi adalah, dari beberapa blog yang saya baca gunung ini memiliki 4 puncak dengan ketinggian yang berbeda yang semakin membuat saya penasaran.

Perlengkapan

Kami berangkat ber-5 (3 laki-laki dan 2 perempuan) dan mempersiapkan logistik untuk dua hari. Karena ada perempuan, maka kami membawa dua tenda dome kecil terpisah (sebetulnya satu tenda cukup untuk 4 orang). Perlengkapan yang lain antara lain sleeping bag, matras, alat makan (rekomendasi bawa gelas dua buah), dan alat masak yaitu panci, kompor gas lapangan yang bisa dilipat (agar ringkas), dan gas untuk memasak satu tabung. Kami juga membawa perlengkapan tambahan seperti tali rafia, lentera listrik, alat untuk memotong, dan beberapa obat (disesuaikan dengan kondisi individu).

Logistik untuk konsumsi yang kami bawa antara lain beras (tiga gelas kecil cukup untuk sekali makan hingga 5 orang), sekaleng ikan kaleng (alias sarden), beberapa bungkus mi instan, dan minuman instan (susu jahe dan kopi jahe). Kami juga membawa gulu kelapa (atau gula jawa atau gula merah) dan beberapa bungkus roti untuk dimakan saat perjalanan.

Untuk kelengkapan pribadi kami yang standar kami menyiapkan sepatu untuk naik gunung dan jaket, senter (dan headlamp direkomendasikan), dan jas hujan (plus rain cover direkomendasikan). Ada beberapa peralatan yang kami melewatkan namun sangat direkomendasikan, yaitu topi, penutup hidung (slayer), sarung tangan, dan gaiter.

Perjalanan

Kelompok kami berangkat dari depan kampus ITB menuju pemberhentian sebelum mendaki: pom bensin Warung Tanjung di Garut. Kami menuju ke terminal Cicaheum, Bandung, naik angkot dengan ongkos 4.000 rupiah. Sampai di terminal kami segera menaiki bus ke arah Garut. Karena kami terlambat berkumpul, kami baru mulai berangkat dari terminal sekitar pukul 09.30. Ongkos bis ke Garut 15.000 rupiah.

Tujuan kami sebagai titik awal pendakian adalah Curug Citiis. Di perjalanan, kami menanyakan kepada kondektur untuk turun di Citiis karena kami belum pernah ke sana sebelumnya. Patokannya ada pom bensin di kanan jalan. Pom bensinnya berada setelah patung di sebelah kanan jalan sebelum masuk gapura Garut (masih di jalan raya Leles kalau tidak salah). Sepanjang jalan mata kami awas kalau-kalau pom kami melewatkan pom bensin yang menjadi patokan. Dan benar saja, pom bensinnya terlewat hingga pertigaan Cipanas. Nah, sebetulnya Anda juga bisa turun di pertigaan Cipanas karena patokannya lebih mudah: pertigaan setelah gapura Garut. Jadi, untuk menuju ke Curug Citiis bisa dari pertigaan Cipanas maupun dari pom bensin Warung Tanjung. Kami memilih berangkat dari pom bensin untuk sekalian menunaikan ibadah sholat dzuhur. Dari pom bensin tersebut sudah terlihat Gunung Guntur dengan padang rumputnya yang kekuningan, sangat terasa tidak teduh dari kejauhan. Namun saya tiba-tiba merasa sedikit panik karena buku catatan saya yang berisi catatan perjalanan orang-orang yang saya kumpulkan dari blog tidak terbawa. Saya coba menenangkan diri dan mengingat-ingat semampunya. Sisanya (dengan agak sombong), biarkan insting berbicara.

Melanjutkan perjalanan menuju Curug Citiis, kami berjalan kaki lewat jalan perkampungan di sebelah pom bensin. Kami menyadari kalau kami kesiangan. Kalau bisa tiba lebih awal anda bisa menumpang truk pasir yang akan naik ke Citiis untuk mengambil pasir. Anda tinggal berjalan menyusuri jalan perkampungan ke arah gunung. Beruntung bagi kami karena bertemu dengan truk akan naik ke arah curug. Kami pun ditawari untuk menumpang. Berangkat menggunakan truk tentu saja jauh lebih cepat. Kami mulai berangkat sekitar pukul 13.00 dan tiba di tempat penambangan pasir sekitar 45 menit kemudian. Kalau kami lanjutkan perjalanan tadi dengan berjalan kaki mungkin kami baru akan sampai 2 jam kemudian atau lebih. Yah, walaupun naik truk ini serasa naik perahu di tengah gelombang karena melewati jalan tanah yang tidak standar. Oh iya, saat memasuki daerah pertambangan segera gunakan penutup hidung. Topi juga sebaiknya sudah digunakan karena jarang terdapat pohon peneduh. Karena kami tidak membawa keduanya, jadilah kami berusaha menutupi kepala dengan jaket dan ponco agar tidak kemasukan debu maupun kepanasan.

Pendakian

Dari atas truk, kami diturunkan di ujung pertambangan, perbatasan daerah tambang dengan hutan. Sebetulnya bapak sopir truk tidak memungut tarif tertentu. Namun kami memberikan sejumlah uang seikhlasnya sebagai tanda terima kasih. Dari situ kami melanjutkan perjalanan dengan kaki memasuki jalan kecil setelah pertambangan. Jalan tersebut bersebelahan dengan sungai yang menjadi hilir dari aliran Curug Citiis. Jalan yang kami lewati adalah jalan setapak yang memang mengarah ke curug, jadi tinggal diikuti saja.

Sesampainya di curug, kami istirahat sejenak untuk membasahi kerongkongan dan mengisi perut seperlunya. Dari curug menuju gunung sebetulnya terdapat percabangan kiri dan kanan. Jalan di sebelah kiri tersusun dari batu besar yang (katanya) bisa tembus langsung ke padang rumput dan langsung menanjak. Sedangkan jalan kanan sedikit memutar namun melewati daerah camp, tidak terlalu terjal, dan lebih teduh. Yaa, walaupun tidak terjalnya itu relatif dan tetap saja terasa jalan batu berundak tersebut sangat terjal. Jadi siapkan fisik dan mental sebelum beranjak dari Curug Citiis. Setelah undakan batu, terdapat jalan landai menembus ilalang sepanjang beberapa ratus meter saja, lumayan lah untuk hiburan. Kami melewati jalan sebelah kanan hingga sampai di daerah camp sekitar pukul 14.30. Di situ kami beristirahat lagi dan mengisi botol air yang sudah kosong dengan air sungai. Dan saat kami mencoba meminumnya langsung, airnya sungguh segar luar biasa, jauh lebih segar dari air mineral botolan yang kami bawa tentu saja.

Dari tempat camp sebetulnya ada opsi untuk berkemah dan melanjutkan perjalanan pada dini hari. Namun, insting dan ingatan kami (yang tidak memadai sama sekali) menggoda untuk langsung ke puncak pertama saat itu. Jadilah kami langsung mulai pendakian dan berharap di lereng gunung nanti ada tempat yang relatif datar dan teduh kalau-kalau terjadi sesuatu. Perkiraan kami, mungkin kami akan sampai puncak sebelum matahari mulai terbenam. Di tempat camp tersebut terdapat penanda jalan untuk ke puncak dan untuk ke sumber air. Begitu kami selesai memenuhi botol air, kami langsung tancap gas menuju puncak karena jalannya memang langsung terjal.

Semakin ke atas, jalan yang kami lewati semakin terjal dan berkerikil. Sangat menyulitkan untuk mendaki karena membuat kaki kami terperosot berulang kali. Di tengah jalan mulai ada masalah. Ritme jalan kami sangat tidak konstan, kami sering mengambil istirahat, dan salah satu di antara kami ada yang mengalami kram di betis. Kami tetap melanjutkan pendakian. Hingga pada suatu titik saya merasakan lapar yang luar biasa. Kedua paha saya keram dan kaki saya gemetar. Saya meminta istirahat 15 menit untuk mengisi perut dengan gula dan roti. Saat itu jam tangan sudah menunjukkan pukul 16.30 dan kami sudah pasti terlambat dari perkiraan.

Kami melanjutkan perjalanan kembali karena ternyata tidak mungkin lagi mendirikan camp di daerah tersebut karena sama sekali tidak ada tanah yang landai. Saya mulai memaksakan badan saya. Setelah beberapa menit melangkah, badan saya mulai aneh. Kram yang saya alami menjalar ke area yang lebih luas. Kaki saya gemetar saat berjalan. Mata saya mulai berkunang-kunang dan mulai sulit menjaga kesadaran. Di situ mulai terbayang kesalahan-kesalahan yang saya lakukan hari itu. Sedikit beristirahat lalu saya kembali memaksakan diri. Kram yang saya alami makin menjalar dan tiba-tiba tubuh saya terasa sangat dingin. Terrifying!! Itu yang saya rasakan saat itu. Dan yah, saya menyerah. Bahkan untuk mengigit gula pun mulut saya sudah tidak sanggup. Rekan kami yang perempuan kami minta untuk terus ke atas mengikuti pendaki di depan kami dan menumpang tenda sesampai di atas. Dan saya, berusaha mempertahankan kesadaran. Saya baru teringat kalau saya hanya makan sangat sedikit saat makan siang.

Segera saya meminta teman saya memberikan balsem untuk menghangatkan dan membuat air gula agar lebih mudah dicerna oleh perut saya. Kami memutuskan bertahan dan menginap darurat di balik sebuah pohon di lereng gunung. Barangkali saya akan lebih baik dan bisa melanjutkan pendakian pada malam hari atau keesokan pagi. Menjelang malam, kami membuat makanan seadanya. Dari lereng kami dapat melihat kota Garut yang mulai gemerlap, sedikit hiburan bagi saya saat itu. Malam itu kami susah tidur. Bagaimana tidak, kami tidur di lereng dan tanpa tenda, sementara jam 10 malam kabut sudah turun dan angin gunung sangat terasa. Terlebih saya, yang ternyata mengalami gejala kekurangan gula darah. Berharap dapat segera pulih, setidaknya agar bisa turun gunung dan pulang.

Keesokan harinya, saya merasa lega karena mulai pulih. Sekitar pukul 04.30 kami melanjutkan perjalanan ke puncak menyusul rekan kami. Dan kurang dari setengah jam kemudian, tanpa terasa kami sudah sampai di puncak pertama di mana teman kami menumpang kemah. Saya merasa kesal karena ternyata menyisakan tinggal sedikit lagi pendakian. Di puncak pertama kami menunggu langit, melihat ke arah horizon, dan menikmati matahari terbit yang luar biasa. Sebetulnya perjalanan masih bisa dilanjutkan ke puncak kedua. Mungkin butuh waktu 30 – 45 menit. Namun kami urung melakukannya takut-takut kalau stamina kami habis dan tidak cukup untuk turun karena persediaan makanan kami terbatas (saya makan lebih banyak di malam sebelumnya). Sambil menikmati sarapan, kami melakukan sedikit evaluasi, kesalahan apa saja yang kami lakukan hingga persiapan kami kurang matang.

Turun Gunung dan Pulang

Kami mulai turun gunung sekitar pukul 08.30. Perjalanan turun gunung sudah terbayang tidak akan semudah turun tangga, karena jalur yang sangat curam dan berkerikil. Benar saja, untuk turun kami harus susah payah berjalan dan berperosotan. Ditambah lagi matahari yang mulai beranjak naik dan semakin terik. Turun gunung kali ini menjadi lebih berat daripada yang dibayangkan (padahal di bayangan kami saja sudah tidak mudah). Oh iya, pada saat turun jangan simpan barang-barang di saku celana karena sangat mungkin terlempar saat terguling atau terperosot, dan gunakan slayer dan topi. Kami tiba di daerah camp sekitar pukul 11.00 dan beristirahat dan mengambil air minum sebelum melanjutkan perjalanan hingga ke pertambangan pasir.

Kami tiba di pertambangan sekitar pukul 13.00 dan beristirahat dan menunggu truk yang dapat ditumpangi hingga jalan raya Leles. Dari jalan raya tinggal tunggu bus atau minibus elf ke arah Bandung. Sepanjang jalan saya merasa lega setelah apa yang saya alami. Kami tidak mendapatkan best view yang kami inginkan, namun kami mendapat pengalaman yang berharga.

Rincian Biaya

Iuran untuk bekal kelompok : kira-kira Rp 50.000,00 per orang
Angkot Cicaheum pp : Rp 8.000,00
Bus Bandung – Garut pp : Rp 8.000,00
Total: Rp 66.000,00 ++ (ditambah kebutuhan lain seperti obat pribadi)

Ringkasan Jalur

ITB – terminal Cicaheum – pom bensin Warung Tanjung atau pertigaan Cipanas – Curug Citiis –  tempat camp – puncak 1 (bisa dilanjutkan ke puncak 2, 3, dan 4)

Ringkasan Tips:

  • Persiapkan fisik dengan matang karena medan yang terus curam menanjak
  • Sebaiknya tidak melakukan pendakian di musim hujan
  • Bawalah slayer atau penutup hidung dan topi
  • Jika ingin langsung berkemah ke puncak, sebaiknya lakukan lebih pagi untuk menghindari terik matahari. Opsi lain adalah ngebut naik ke puncak pada sore hari (yang menurut saya tidak baik). Apabila memang kesiangan lebih baik berkemah dulu dan lakukan pendakian ke puncak pada dini hari dengan meninggalkan tenda.
  • Turun gunung sepagi mungkin juga untuk menghindari terik matahari
  • Untuk mengantisipasi kejadian seperti yang saya alami alangkah baiknya mengatur pola makan sebelum naik gunung dan menyiapkan air gula
  • Periksa aktivitas gunung (karena 2 hari setelah kami turun gunung, status Gunung Guntur menjadi waspada)

Tentang Estuyu

Estu Yuris Priangga Jakarta, 8 Oktober 1990 Teknik Kimia ITB angkatan 2008
Pos ini dipublikasikan di Jalan-jalan. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s