Newbie Tracker 3: Bandung – Papandayan

Gunung Papandayan memiliki ketinggian 2.665 meter di atas permukaan laut (sumber: wikipedia) berlokasi di Kabupaten Garut, Jawa Barat. Tantangan mendaki gunung pertama ini saya terima di bulan Februari 2013 dan saya eksekusi tanggal 29-30 Maret 2013. Kenapa Papandayan? Karena menurut informasi yang saya dapat dari rekan yang pernah ke sana, Papandayan cukup ramah untuk pemula. Jalur untuk mendaki sudah tersedia dan memiliki lereng yang relatif landai. Pemandangan yang ada di sana setelah saya mencari-cari di situs google untuk persiapan pun menggoda. Sebetulnya rekomendasi rekan untuk naik ke Papandayan adalah pada bulan 6 agar dapat menikmati bunga edelweiss yang mekar.

Perlengkapan

Saya mempersiapkan logistik untuk pendakian dan camp selama dua hari satu malam. Untuk menginap tentu saja diperlukan tenda sebagai tempat berteduh. Agar lebih nyaman saat beristirahat saya juga menyiapkan matras dan sleeping bag alias kantong tidur. Persediaan konsumsi disuplai dengan membawa kentang rebus, sosis, dan mie instan. Sumber gula seperti permen coklat, madu, atau gula merah bisaa dibawa untuk perjalanan. Air minum 3 liter sepertinya cukup untuk keseluruhan perjalanan (di tempat kemah terdapat air dari mata air yang bisa diambil). Tidak lupa kompor lapangan (bisa parafin maupun gas), panci, dan trash bag. Sebagai perlengkapan tambahan bisa membawa tali dan rafia berwarna terang, alat-alat pemotong (pisau/gunting), dan korek untuk membuat api unggun. Dan jangan melewatkan kotak medik untuk berjaga-jaga dan disesuaikan dengan kondisi individu atau kelompok yang akan melakukan pendakian.

Untuk kelengkapan pribadi selama pendakian, sepatu untuk naik gunung dan jaket sangat disarankan (atau barangkali diwajibkan). Karena saya berangkat pada musim hujan, maka jas hujan dan rain cover untuk tas juga menjadi sangat penting. Ditambahkan juga penutup hidung, penutup kepala dan sarung tangan, dan lampu senter. Apabila anda adalah seorang gadget addict, perlu untuk membawa alat penyimpan listrik (power bank) sebagai cadangan.

Perjalanan

Kelompok pendakian saya terdiri atas 19 orang dengan rincian 12 mahasiswa dan 5 mahasiswi Teknik Kimia ITB dan 2 mahasiswi Unpad. Kami berkumpul dan mulai bergerak pukul 08.00 dari gerbang depan ITB. Dari sana kami naik angkot ke arah terminal Cicaheum. Dari Cicaheum kami naik bus ke arah Garut. Total perjalanan termasuk ngetem dan lain-lain adalah 4 jam. Di terminal Garut kami beristirahat sejenak sekitar satu jam sambil mencari info untuk menuju ke Papandayan. Sebelum naik, kami harus ngangkot dulu ke Cisurupan (angkot ke arah Cikajang berwarna putih-biru). Nah, di sini agak tricky. Bila rombongannya kecil bisa naik angkot yang sedang ngetem dengan ongkos 6.000 rupiah per orang. Bila rombongannya besar (seperti kami), pasti ada yang menawarkan carteran dengan ongkos 10.000 rupiah per orang. Sampai di Cisurupan (45 menit) kami harus lanjut menuju ke gerbang pendakian yang masih jauh. Begitu turun dari angkot kami langsung diserbu oleh tukang ojeg yang menawarkan jasanya. Nah di sini lagi-lagi tricky. Selain ojeg, ada mobil bak terbuka yang mengantar sampai ke gerbang dengan ongkos 15.000 rupiah per orang atau bisa menjadi 120.000 rupiah per rombongan. Mobil bak terbuka ini cuma bisa melayani rombongan dengan batas bawah 5 dan batas atas 12 orang. Kalau anda pergi dalam rombongan kecil, tunggulah rombongan lain lalu ajak bergabung untuk naik mobil bak terbuka yang jatuhnya bisa lebih murah. Kalau tidak ada ya naik ojeg saja, hehe.. Perjalanan menuju gerbang ditempuh sekitar satu jam.

Dari gerbang kita harus membayar tiket masuk 2.000 rupiah per orang dan dilanjutkan dengan registrasi dengan membayar iuran sukarela. Kami menyumbang 10.000 rupiah untuk satu rombongan. Dari gerbang tinggal mengikuti jalur pendakian ke atas.

Pendakian

Kami memulai pendakian pada pukul 16.00. Jalur pertama yang harus dilalui adalah daerah kawah. Nah di sini segera kenakan penutup hidung untuk menghalau bau belerang yang menyengat dan bisa membuat pusing. setelah melewati kawah jalur berikutnya adalah jalan makadam yang cukup lebar dilanjutkan dengan jalur hutan. Sekitar satu setengah jam kami mencapai pemberhentian pertama di Pondok Saladah. Namun berhubung Pondok Saladah penuh oleh para pendaki, kami mencari spot lain untuk kemah di area sebelum jalan masuk ke Pondok Saladah.

Setelah bermalam, kami mulai berkemas dan melanjutkan perjalanan. Kami berkemas pukul 05.00 dan mulai berjalan pukul 06.30. Karena tidak yakin dengan keamanan di luar Pondok Saladah, jadilah kami membawa serta semua perbekalan termasuk tenda untuk mendaki. Kalau bisa berkemah di Saladah, anda bisa meninggalkan tenda dan hanya membawa barang yang perlu saja sehingga lebih ringan.

Dari Saladah jalur yang ditempuh adalah melewati hutan, kemudian memasuki hutan mati. Di hutan mati ini anda perlu hati-hati dan di sini rafia yang disiapkan menjadi berguna. Di hutan mati ini jalur yang pasti untuk mendaki tidak ada. Kami beruntung ada rombongan lain yang sedang turun gunung sehingga tahu jalan untuk mencapai puncak. Di sini peran rafia berwarna terang sangat berguna untuk menandai jalan yang dilalui, terutama saat turung gunung, terlebih  jika terjadi kabut. Dari hutan mati perjalanan dilanjutkan dengan jalur pendakian jelas melewati hutan kemudian sampai di Tanjakan Mamang. Di sini jalur yang dilalui sangat terjal. Dibutuhkan kehati-hatian terutama nanti pada saat turun gunung. Setelah melaluinya, tibalah kami di pos pemberhentian selanjutnya, yaitu Tegal Alun yang berupa hamparan lembah luas dengan semak-semak edelweiss. Kami mencapai Tegal Alun sekitar pukul 8 dan beristirahat.

Dari Tegal Alun sebetulnya tinggal beberapa puluh meter (vertikal) kami dapat mencapai puncak Papandayan. Pukul 08.45, 16 orang dari rombongan kami melanjutkan perjalanan ke puncak sedangkan 3 harus menjaga perbekalan yang kami tinggalkan. Jalur menuju puncak melewati hutan dan sempit. Sebelum memasuki hutan kami melewati lereng yang sebetulnya berbahaya setelah hujan. Di dalam hutan ini ada satu orang rombongan yang terpisah sehingga akhirnya kami memutuskan kembali karena telah melewati batas waktu yang telah kami tetapkan sendiri yaitu pukul 09.30. Di Tegal Alun ini anda harus mengingat-ingat dari mana anda memasukinya karena hamparan lembah luas juga bisa membuat anda tersesat.

Turun Gunung Hingga Pulang

Kami mulai beranjak untuk turun sekitar pukul 10.00. Dan perjalanan menuruni gunung ternyata lebih sulit daripada saat naik ditambah dengan kabut dan gerimis. Penanda yang kami buat cukup membantu kami untuk pulang. Bahkan saat kami sampai di Pondok Saladah akhirnya turun hujan yang cukup lebat. Kami menuruni jalur yang pernah kami lalui dengan satu tantangan tambahan yaitu turunan curam berlumpur yang sangat licin. Kami mmencapai gerbang awal pukul 13.00. Dari sana kami beristirahat dulu sebelum melanjutkan perjalanan pulang dengan mobil bak terbuka pukul 14.30. Pada saat turun di Cisurupan kami sempat bingung bagaimana caranya kembali ke Bandung dengan budget yang menipis. Akhirnya kami menunggu mobil minibus yang lewat dan menumpang hingga Bandung dengan ongkos 20.000 rupiah turun di gerbang depan ITB. Dan wow..!! Kami menumpang satu minibus Elf ber-19 dengan 7 penumpang lain. Total 28 orang termasuk seorang supir dan seorang kenek berjejalan di mobil yang seharusnya hanya berkapasitas sekitar 15-18 orang itu. Rekomendasi saya untuk pendaki selanjutnya adalah untuk menumpang Elf dari Bandung hingga Cisurupan kemudian janjian untuk dijemput di Cisurupan keesokan harinya. Dengan menempuh 3 jam perjalanan, pada pukul 19.30 kami tiba di gerbang depan ITB.

Perjalanan yang susah-susah asyik, dengan hanya sekitar 4 orang inisiator dengan 1,5 bulan inisiasi dan persiapan berkembang menjadi 19 orang. Susah senang ditanggung bersama. Perjalanan ini saya dedikasikan untuk HIMATEK ITB dan rekan-rekan di dalamnya yang menemani saya empat tahun di S1 Teknik Kimia.

Rincian Biaya

Iuran untuk perbekalan kelompok (untuk 19 orang): Rp 50.000,00
Angkot Cicaheum: Rp 4.000,00
Bus Bandung Garut: Rp 15.000,00
Angkot ke Cisurupan: Rp 10.000,00
Mobil bak ke gerbang: 2 x Rp 15.000,00
Tiket masuk: Rp 2.000,00
Elf pulang ke Bandung: Rp 20.000,00
Total: Rp 131.000,00
Plus persiapan logistik yang lain seperti air minum dan makanan

Ringkasan Jalur

ITB – Terminal Cicaheum (Bandung) – Terminal Guntur (Garut) – Cisurupan – Gerbang Papandayan – Pondok Saladah – Hutan Mati – Tanjakan Mamang – Tegal Alun – Puncak

Puncak – Tegal Alun – Tanjakan Mamang – Hutan Mati – Pondok Saladah – Gerbang Papandayan – Cisurupan – ITB

Ringkasan Tips:

  • Berjalan dengan rombongan kecil, bila memang dengan rombongan besar bisa dibagi lagi menjadi kelompok yang lebih kecil
  • Berangkat dengan Elf langsung ke Cisurupan, catat nomor hp sopir agar bisa janjian untuk dijemput saat turun
  • Sebisa mungkin berkemah di Pondok Saladah lalu bawa barang yang penting saja saat naik ke puncak
  • Bersiap untuk menghadapi kabut dan hujan
  • Berangkat di bulan 6 untuk menikmati edelweiss

Tentang Estuyu

Estu Yuris Priangga Jakarta, 8 Oktober 1990 Teknik Kimia ITB angkatan 2008
Pos ini dipublikasikan di Jalan-jalan. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s