Newbie Tracker 2: Gua Pawon – Taman Batu – Gunung Masigit

Bandung adalah kota destinasi wisata dengan berbagai tujuan yang menarik. Orang-orang tentu sudah mengenal Jalan Dago dengan deretan factory outlet, atau Cihampelas dengan toko-toko pakaian jeans, mal seperti BIP dan PVJ, maupun berbagai tujuan wisata kulinernya yang menarik. Selain wisata di dala kota yang menarik, Bandung juga dikelilingi bentang alam dengan tujuan wisata yang menarik, sebut saja kawasan Lembang, Gunung Tangkuban Perahu, maupun Kawah Putih Ciwidey. Kali ini saya kembali berjalan-jalan menuju tempat yang tidak biasa namun dijamin tidak kalah istimewa: Gua Pawon.

Gua Pawon terletak di Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat, dekat dengan Padalarang. Padalarang dikenal sebagai lokasi berdirinya pabrik kertas pertama di Indonesia. Bentang alam Padalarang yang memiliki pegunungan kapur selain dimanfaatkan sebagai sumber pendapatan juga menyimpan keindahan.

OK! Setelah sebelumnya sudah pernah ke Tangkuban Perahu jalan kaki, saya dan 3 rekan saya memutuskan untuk berjalan-jalan ke sana. Melepas penat yang sudah jenuh oleh hiruk-pikuk kota Bandung.

Bandung – Padalarang

Banyak jalur yang dapat dilalui untuk mencapai Padalarang. Kali ini kami memilih moda transportasi paling masal dan paling murah, yaitu kereta api. Kami berangkat dari kampus ITB Ganeca menumpang angkot Cicaheum – Ciroyom ke arah Stasiun Ciroyom. Dari situ kami menumpang KRD Ekonomi ke arah Padalarang. Kereta ini mulai beroperasi pukul 9.00 dan melayani pemberangkatan setiap jam hingga sore hari. Selain menumpang KRD Ekonomi, bisa juga menumpang KRD Patas dari Stasiun Hall Bandung yang lebih cepat dan nyaman namun tentunya lebih mahal. Tidak ada yang spesial saat kami menumpang, kecuali kalau anda tidak terbiasa naik kereta ekonomi yang penuh dengan penumpang.

Stasiun Padalarang

Stasiun Padalarang – Kawasan Gua Pawon

Perjalanan menggunakan KRD Ekonomi memakan waktu sekitar 1 jam. Sekitar pukul 10.30 kami melanjutkan perjalanan menuju Gua Pawon. Untuk mencapainya, kami menumpang angkot Padalarang – Rajamandala. Angkot ini mudah dikenali: berwarna kuning dan memiliki pintu penumpang di belakang mobil (seperti opelet Si Doel). Dari stasiun, membutuhkan waktu sekitar 45 menit (karena lalu lintas padat). Kawasan Gua Pawon memiliki tanda masuk berupa gapura dengan tulisan “GUA PAWON”. Kalau takut nyasar atau kebablasan, tinggal bilang ke supir angkot untuk turun di Gua Pawon. Dari gapura, perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki melewati jalanan kampung hingga mencapai Gua Pawon.

Gapura Gua Pawon

Gua Pawon

Situs Gua Pawon dengan mudah dikenali dengan diawali oleh adanya semacam “pendopo” dengan maket situs di dalamnya. Dari situ tinggal berjalan lurus dan kami mendapati Gua Pawon di sebelah kanan agak di sebelah atas jalan. Untuk masuk ke dalamnya perlu sedikit usaha untuk menaiki bebatuan. Sesampainya di mulut gua, yang pertama kali kami rasakan adalah bau guano yang menusuk hidung. Guano adalah kotoran kelelawar yang biasa tinggal di dalam gua dan berbau menusuk karena mengandung fosfat, ureat, nitrat, dan oksalat, zat-zat yang berbau menyegat. Kami berusaha semaksimal mungkin untuk menutup hidung menggunakan jaket agar tetap bisa berjalan karena kami tidak tahu dan tidak menyiapkan masker.

Gua Pawon tidak begitu dalam menembus bukit. Hanya cerukan-cerukan yang memiliki semacam jalan yang terhubung di setiap cerukan. Dari situs Dinas Pariwisata dan Budaya Pemda Jawa Barat disebutkan bahwa Gua Pawon merupakan situs pra sejarah yang telah diteliti De Yong dan Von Koenigswald pada tahun 1930-1935. Dari penelitian berhasil ditemukan kerangka manusia dan alat-alat jaman prasejarah. Kebetulan kami sempat mengabadikan kerangka tersebut.

Secuplik Gua Pawon

Kerangka manusia pra sejarah

Puas mencium bau guano, kami pun melanjutkan jalan-jalan ke taman batu dan Gunung Masigit yang ternyata berlokasi di sebelah Bukit Pawon, tempat situs Gua Pawon berlokasi.

Taman Batu dan Gunung Masigit

Dari depan pendopo situs, terdapat jalan setapak yang menanjak menuju dua puncak bukit, salah satunya adalah taman batu dan yang lainnya adalah Gunung Masigit. Kami memutuskan untuk menuju ke taman batu terlebih dahulu karena katanya tempatnya indah. Kami menyusuri jalan setapak yang menanjak hingga sampai ke persimpangan. Untuk mencapai taman batu, kami mengambil jalan ke kiri. Dan sebelum mencapai taman batu, kami perlu berhati-hati karena melewati hutan yang penuh dengan monyet. Perjalanan menanjak yang kami lalui tidak terlalu panjang, mungkin hanya beberapa ratus meter.

Sesampainya di taman batu, alhamduliLlah, memang benar-benar indah. Puncak gunung yang relatif datar dengan hamparan rumput diselingi batu-batuan kapur besar-besar. Hawa udara di atas pun cukup segar. Sejenak kami beristirahat sambil menikmati pemandangan taman batu yang seperti taman teletubbies namun lebih gersang. Di sekeliling dapat terlihat Gunung Masigit dan kegiatan-kegiatan pertambangan batu kapur di daerah sekitarnya. Pemandangan hijau diselingi batu-batuan putih kelabu ini luar biasa..!! Nampaknya akan mengasyikkan kalau bermain petak umpet di taman batu tersebut.

Taman Batu alias Stone Garden

Setelah cukup puas, kami melanjutkan perjalanan menuju Gunung Masigit. Kami tinggal menyusuri jalan setapak tadi dan mengambil belokan yang lain. Gunung Masigit ini tampak sedikit biasa, Bukit hijau lalu di atasnya terdapat batu karang kapur menonjol menjulang sebagai puncaknya. Menurut teman saya yang menjadi guide, di puncaknya terdapat padang seperti di taman batu dan biasa dihuni oleh burung elang untuk membangun sarang. Namun sayang perjalanan terhenti beberapa puluh meter dari puncak karena jalan setapak yang longsor dan langit yang terlalu mendung untuk membuat jalan baru.

Gunung Masigit, beberapa ratus meter sebelum puncak dan terhenti

Perjalanan Pulang

Pulang dari sana, kami tinggal melewati jalan yang dibuat oleh penambang batu kapur hingga menuju jalan utama. Ternyata ada jalan tembus yang lebih dekat untuk mencapai jalan utama daripada melewati gapura Gua Pawon. Kami menumpang lagi angkot Padalarang – Rajamandala hingga stasiun.

Padalarang – Bandung

Kami sampai di stasiun sekitar pukul 14.30. Untuk menuju Bandung, alternatif keretanya ada beberapa macam. Menaiki KRD Ekonomi seperti saat berangkat, KRD Patas 7.000 rupiah yang berangkat pukul 15.00, atau naik Kereta Ekonomi Lokal Cibatu jurusan Purwakarta – Cibatu yang berangkat 15 menit kemudian. Kami memilih Kereta Ekonomi Lokal Cibatu karena kami ingin turun di Stasiun Hall yang lebih dekat ke arah kampus dengan harga yang paling murah. Dari Stasiun Hall pukul 16.00 kami naik angkot Cisitu Tegalega, menikmati roti hangat sambil ngobrol dan meresapi kepuasan menyelesaikan tracking.

Biaya

Hanya butuh ongkos transport untuk pulang-pergi Gua Pawon:
Angkot Cicaheum – Ciroyom dari kampus: Rp 4.000,00
KRD Ekonomi: Rp 1.000,00
Angkot Padalarang – Rajamandala: Rp 3.000,00 (2x, pulang-pergi)
KA Ekonomi Cibatu: Rp 3.000,00
Angkot Cisitu – Tegalega sampai kampus: Rp 3.000,00
TOTAL: Rp 17.000,00 (ver-2012, cukup terjangkau bukan?!)

Tentang Estuyu

Estu Yuris Priangga Jakarta, 8 Oktober 1990 Teknik Kimia ITB angkatan 2008
Pos ini dipublikasikan di Jalan-jalan. Tandai permalink.

2 Balasan ke Newbie Tracker 2: Gua Pawon – Taman Batu – Gunung Masigit

  1. kiki berkata:

    kalo naik mobil sendiri, keluar toll padalarang kemana kang?? btw terimakasih ya referensinya kang’

    • Estuyu berkata:

      wah saya belum pernah nyoba. coba tanya arah2 tentang daerah2 di situ ke orang padalarang. sebenernya kalau dari stasiun padalarang gampang sih. tinggal ngikutin angkot dan jalannya nggak banyak bercabang..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s