Lorok, Pacitan, Real Getaway (3 + Opinion)

Pemandangan Alam

Daerah Lorok merupakan daerah dataran rendah dengan perbukitan. Tanahnya merupakan tanah datar dan landai dengan komposisi tanah yang keras dan berhumus dangkal (begitu kata Pak Dhe). Perbukitan melingkari dan membatasi Lorok, dan terkadang ada satu-dua bukit yang berdiri di sela-sela Lorok. Bukit yang ada bukan seperti bukit-bukit di serial Teletubbies yang mulus seperti mangkok terbalik. Perbukitan yang ada di Lorok ini berbatu. Yang paling khas adalah perbukitan di sebelah timur rumah eyang. perbukitan yang bersebelahan dengan sungai terbesar di Lorok (Kali Lorok namanya, kalau tidak salah). Unik, karena deretan bukit tersebut memiliki sisi yang curam dengan tebing batu yang menonjol di sela-sela rimbunnya pepohonan. Bebatuan berwarna kelabu dengan patahan-patahannya yang berwarna coklat kekuningan, menyembul di antara dedaunan yang rimbun dan hijau dapat dilihat dari pelataran rumah. What a sight…

Di sebelah selatan daerah ini merupakan daerah pesisir. Sebelum mencapai pesisir, jalanan yang dilalui sedikit berkelok melewati celah-celah perbukitan. Tentunya mengasyikkan melewati tebing-tebing kapur berwarna putih kekuningan diselingi hutan-hutan jati dan kebun kelapa. Begitu keluar dari daerah perbukitan mendekati laut, kita langsung disambut deburan ombak tinggi khas laut selatan. Bila kita teruskan perjalanan menaiki beberapa bukit, kita bisa menikmati lansekap perbatasan antara perbukitan yang ditumbuhi pepohonan, pesisir pantai dengan laut yang begitu biru, dan horizon antara laut dan langit bersih biru muda. Menakjubkan…!!

Vegetasi yang tumbuh di Lorok beragam namun khas daerah tropis kering. Hutan-hutannya ditumbuhi pepohonan berdaun cenderung hijau terang hingga kekuningan, contohnya jati, mahoni, sengon, cengkeh, dan lain-lain. Daerah pesisir ditumbuhi nyiur, si pohon kelapa. Dataran rendah dipenuhi hamparan tanaman padi dan tanaman-tanaman ladang.

Lansekap Lorok didominasi oleh persawahan dan perladangan (jagung, singkong, dan palawija) pada daerah datar dan sekitar aliran sungai. Pusat-pusat permukiman berada terutama di sekitar satu-satunya jalan utama yang membelah Lorok barat dan timur serta di kaki-kaki bukit. Kantor-kantor dan pusat-pusat kegiatan ekonomi tentu saja berdekatan juga dengan jalan tersebut. Sepi memang, dengan hanya satu pasar dan satu terminal. Tetapi rasakan saja sensasinya saat malam dan saat pagi. Saat malam hari, bila kita berjalan di pematang-pematang sawah, lihatlah ke atas dan kita akan mendapati langit yang menakjubkan bertabur bintang begitu banyak, seperti lempengan hitam obsidian yang bertabur pasir yang berkilauan. Dan di saat pagi, kita bisa mendapati kota kecil ini bergeliat perlahan namun tanpa hiruk pikuk dan asap-asap kendaraan.

Kehidupan Masyarakat

Mungkin dari deskripsi di atas pembaca sudah terbayang bagaimana kondisi masyarakat di Lorok. Mayoritas merupakan petani/peladang maupun nelayan, maupun keduanya (seperti kakek saya). Sisanya ada yang pedagang, pegawai negeri, maupun penebang kayu. Dengan dihuni mayoritas suku Jawa, masyarakat di sini cenderung masyarakat yang begitu kalem dan begitu teguh berpegang pada nilai-nilai tradisi. Bahasa Jawa Krama begitu lancar terucap dari celotehan anak-anak sekalipun.

Hidup begitu damai di sini. Tetangga saling menyapa satu sama lain walaupun rumahnya ada yang besar dan ada yang kecil. Dan rumah-rumahnya begitu unik. Dengan halaman lebar untuk berinteraksi (baca: nongkrong), pagar yang pendek dan malah kadang tidak berpagar. Kendaraan bermotor diparkir begitu saja, aman, meski kunci masih tergantung. Pintu rumah selalu terbuka, memungkinkan para tetangga untuk masuk langsung ke dalam rumah, kadang tanpa perlu permisi. Di dalam rumah selalu ada suguhan untuk tamu. Dan denah rumahnya pun unik. Dapur diset begitu besar sehingga orang-orang bisa berbincang-bincang sambil mengerjakan banyak hal.

Hubungan pertetanggaan ini didukung dengan tali kekerabatan yang erat walaupun berjauhan. Orang-orang (terutama para sesepuh dan orang tua) terbiasa mengurut-urutkan tetangga hingga pertalian keluarga yang paling dekat. Dan antar kerabat pun tidak sungkan-sungkan berbagi hasil buminya. Kaget saya saat disuruh untuk mencari daun kangkung untuk sayur. Dan kerabat jauh saya memberikan secara cuma-cuma berikat-ikat daun kangkung plus kacang panjang.

Hubungan sosial inilah yang menurut saya unik, dan mendamaikan siapapun yang berkunjung ke Lorok. Terutama bagi orang “kota” seperti saya yang sudah dipenuhi hidup dengan pace tinggi dengan individualitas dan hiruk-pikuknya. Jadilah saya di Lorok ini semacam bermeditasi untuk mengambil kedamaian. Dari menikmati hebatnya pemandangan alam, serta kehidupan sosial masyarakat yang begitu guyup rukun. 

Perkembangan Zaman

Dengan potensi yang demikian, saya jadi bermimpi bagaimana jika Lorok menjadi daerah tujuan wisata untuk “kabur” dari kepenatan. It’s such a perfect place to rejuvenate mind. Dengan alam yang mendukung, serta kehidupan sosial yang jauh dari hingar-bingar, tepat untuk berefleksi. Namun, kalau saya berpikr lebih jauh, agak beresiko jika Lorok ini dibuka terlalu lebar. Dengan adanya wisatawan, tentu efek yang pertama akan lahir adalah peningkatan kepadatan. Dengan demikian, kesunyian Lorok tidak akan terasa lagi.

Efek kedua yang mungkin terjadi adalah perubahan kondisi lingkungan. Lingkungan Lorok tidak akan sama lagi untuk memenuhi kebutuhan penunjang pariwisata seperti hotel, kawasan wisata, dan lain-lain. Bertambahnya fasilitas dan bangunan berarti bertambahnya lampu penerangan. Artinya akan ada polusi cahaya. Dan sebagainya, dan sebagainya, yang menjadikan Lorok tidak seperti aslinya lagi.

Efek ketiga yang paling saya takutkan adalah perubahan sosial yang akan terjadi di masyarakat. Masyarakat Jawa umumnya berkarakter ramah dan terbuka terhadap pendatang. Hal tersebut menjadikan penduduk Lorok sangat reaktif terhadap perkembangan jaman. Sebut saja contoh yang paling mudah adalah ketika ponsel dan internet masuk ke Lorok, hampir setiap orang dalam waktu sekejap memiliki berbagai gadget. Dan seperti umum diasumsikan bahwa perkembangan teknologi (utamanya informasi) memiliki berbagai pengaruh negatif bagi tatanan kehidupan sosial masyarakat. Sebut saja yang paling terlihat adalah meningkatnya taraf hidup yang berefek pada individualisme yang semakin meruncing. Pada kondisi dimana kebutuhan pribadi dapat dipenuhi sendiri, “ketergantungan” terhadap orang lain akan berkurang, dan hal tersebut merupakan cikal bakal longgarnya hubungan antar individu dalam sebuah komunitas. Kekhasan kehidupan sosial pedesaan dimana komunikasi langsung begitu lancar terjalin tergantikan oleh ponsel dan messenger. Apalagi saat ini sudah mulai tumbuh dua minimarket franchise yang terkenal di Indonesia. Bukan jadi suasana pedesaan lagi namanya.

Ditambah lagi perilaku yang berubah akibat adanya culture shock akibat dibukanya akses secara tiba-tiba yang sebenarnya bagus bagi kehidupan perekonomian masyarakat Lorok yang sebelumnya sangat seret dan sedikit terisolir. Culture shock tersebut kurang diimbangi dengan penguatan budaya dan pendidikan untuk menyikapi perubahan teknologi. Contoh simpelnya adalah pengelolaan sampah. Dulu, di Lorok sangat jarang ditemui limbah plastik. Barang dikemas menggunakan daun pisang atau daun jati (untuk makanan) atau kotak kayu dan besek dari bambu. Namun adanya barang-barang dari luar Lorok membuat semua barang terbungkus kemasan plastik. Kemasan alami bisa terurai dengan cepat, tidak seperti kemasan plastik, walaupun dibuang sembarangan. Dan saat kemasan plastik diperlakukan seperti halnya kemasan alami akibatnya adalah sampah yang berserak di mana-mana. Bahkan Kali Lorok saat ini sudah mulai tersumbat sampah dan tidak jernih lagi.

Dengan segala perubahan tersebut bisa saja pada akhirnya Lorok tidak lagi nyaman untuk disinggahi sebagai tempat berekreasi.

Lalu apa yang harus dilakukan?

Saya mengimpikan terbukanya akses pariwisata ke daerah Lorok. Karena ya memang Lorok memiliki potensi dan juga bermanfaat untuk memutar roda ekonomi yang akhirnya dapat meningkatkan taraf hidup masyarakat. Namun kapan? Menurut saya pada saat masyarakat Lorok telah cukup teredukasi terhadap perkembangan teknologi dan saat sudah siap dan tangguh untuk menghadapi culture shock tersebut.

Segala perubahan yang terjadi harus disikapi oleh manusia. Kuncinya adalah manusianya. Banyak penduduk Lorok yang sudah merantau sebagai pelajar dan teredukasi dengan cukup untuk mengembangkan ide memajukan Lorok. Untuk memajukan Lorok seharusnya dapat dilakukan, karena mereka memiliki dua modal: 1) ilmu dan 2) keberterimaan elemen masyarakat lain karena sebelumnya sudah diakui sebagai bagian dari komunitas. Dengan perencanaan dan penataan yang tepat bagaimana me-manage tata ruang dan infrastruktur serta pemanfaatannya; perlindungan budaya, pendidikan, dan tata nilai masyarakat; dan perencanaan pemerataan ekonomi penyiapan masyarakat untuk berkembang dapat dilakukan.

*) Tulisan ini dibuat atas pendapat subjektif pribadi. Mungkin bermanfaat dan mungkin masih banyak kekurangan.

Tentang Estuyu

Estu Yuris Priangga Jakarta, 8 Oktober 1990 Teknik Kimia ITB angkatan 2008
Pos ini dipublikasikan di Jalan-jalan, Opini. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s