Lorok, Pacitan, Real Getaway (2)

Perjalanan menyusuri daerah pesisir Lorok dilanjutkan terus ke arah barat. Kali ini saya dibawa oleh kakak sepupu saya yang mencari spesies kelomang langka berwarna biru-hitam untuk keperluan penelitian. Lokasi pencarian adalah di pantai-pantai terpencil dan berkarang. Setelah melewati Pantai Tawang, ada satu objek baru di kota kecil tersebut, sebuah jembatan. Memang, saat tulisan ini dibuat, proyek jalan lintas selatan Jawa Timur sedang dikerjakan. Jalanan pesisir selatan Lorok tersebut merupakan bagian dari proyek. Dan jembatan tersebut juga bagian dari proyek. Sebetulnya hanya sebuah jembatan untuk melintasi muara sungai yang sering banjir saat penghujan, maupun terkena air rob saat air pasang. Namun, dibandingkan jembatan-jembatan “kreteg” bambu maupun jembatan aspal biasa di Lorok, jembatan tersebut sangat berbeda.

Jembatan

Jembatan tersebut tidak terlalu panjang, mungkin hanya sekitar 100 meter. Rangkanya terbuat dar bahan logam, berbentuk melengkung dan dicat dengan warna biru dan merah. Di sisi-sisi jembatan dipagari dengan pagar beton. Sisi sebelah utara jembatan menghadap ke arah sungai dan perbukitan. Nah, sisi selatan ini yang mungkin menarik perhatian, langsung menghadap ke terusan sungai yang berbatasan dengan lautan. Dari sisi sebelah selatan jembatan saya bisa melihat Pantai Tawang, tepat ke arah tebing karang kecil yang berada di tengah pesisir pantai. Sebuah pemandangan tersendiri menyaksikan beberapa orang memancing di sungai berlatar belakang Samudra Hindia dengan suara ombak yang sayup-sayup masih terdengar dan angin laut yang masih terasa semilirnya.

Perjalanan ke pantai tujuan pencarian dilanjutkan. Jalan yang dilalui masih jauh, mungkin sekitar 3 kilometer dari lokasi jembatan. Dari jalan raya, kami harus masuk lagi ke jalan-kalan makadam. Jalan makadam ini agak aneh, karena umumnya jalan makadam menggunakan batu-batu kali yang halus, jalan ini menggunakan batu-batuan karang yang kasar dan runcing. Namun setelah melalui jalanan yang tidak nyaman tersebut, sedikit-sedikit terdengar suara ombak. Akhirnya kami sampai di pantai yang dimaksud kakak saya, Pantai Pidakan.

Tidak seperti pantai-pantai yang sebelumnya saya ceritakan, Pantai Pidakan (dieja Pida’an) tidak berpasir, tapi berbatu. Terdiri atas karang-karang serta batu-batu bulat yang halus dan berwarna putih (saya tidak tahu jenis batu tersebut). Dari jalan kami harus menuruni lereng yang curam. Sepertinya pantai ini tenggelam saat air laut sedang pasang. Lalu menyusuri daerah berbatu-batu halus hingga jarak sekitar 10 meter. Setelah daerah berbatu halus yang putih bersih tersebut terdapat daerah berbatu karang. Karang-karang tersebut membentuk kolam-kolam kecil pada saat air laut surut. Air laut yang kernih hingga kami dapat melihat ke bagian dasar dan sela-sela karang. Di kolam-kolam kecil tersebut lah biasanya banyak ditemui hewan-hewan unik seperti bintang laut, siput laut, kepiting, ubur-ubur, dan kelomang. Air laut mengalir tidak terlalu deras. Seperti menikmati aliran air di kolam dengan karang buatan, hanya saja yang ini sedikit berbeda. Lebih asli, lebih natural, lebih dramatis dengan suara ombak. Lebih wah! Sensasi di pantai ini berbeda dari pantai-pantai sebelumnya. Jika di pantai sebelumnya saya mendapat ketenangan, di sini saya merasakan petualangan saat melihat karang-karang. Ditambah lagi dengan pesisir pantai berbatu dan koral yang diselingi dengan warna hijau rumput laut yang menempel. Unik!

Kami menyisir pantai, melihat kolam-kolam kecil tersebut dan mencari di sela-sela karang. Sambil menikmati keindahan hewan-hewan lain kami mencari rumah-rumah keong yang barangkali terisi kelomang biru-hitam yang dimaksudkan. Namun setelah sekitar jam kami mencari, spesies langka tersebut tidak dapat kami temukan. Ya, akhirnya kami duduk di bebatuan sambil menikmati pemandangan. Semakin kami menikmati pemandangan yang dihiasi kolam-kolam kecil berair jernih tersebut, eksotisme Pantai Pidakan tersebut semakin terasa. Seperti mutiara di dalam rumah kerang, jalan-jalan kali ini benar-benar seperti pelarian dari kepenatan riuhnya kota ke paradiso yang tersembunyi. Real getaway!!

Tentang Estuyu

Estu Yuris Priangga Jakarta, 8 Oktober 1990 Teknik Kimia ITB angkatan 2008
Pos ini dipublikasikan di Jalan-jalan. Tandai permalink.

2 Balasan ke Lorok, Pacitan, Real Getaway (2)

  1. VIGO berkata:

    masuk dr jalan raya jauh ngga ?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s