Newbie Tracker, Tangkuban Parahu via Jayagiri

Sekilas kawasan wisata Gunung Tangkuban Parahu

Hari Sabtu itu, tanggal 7 Maret 2012, saya dan 5 orang saya berkumpul di terminal Ledeng. Sambil ngobrol-ngobrol dan sarapan kami menunggu teman yang bergantian ke toilet dan membeli perbekalan. Hari itu kami akan berwisata ke salah satu objek wisata favorit di Bandung, Gunung Tangkuban Parahu. Namun kami tidak ingin jalan-jalan biasa saja. Kami akan memilih rute menembus hutan melalui jalan setapak dengan berjalan kaki. Ide ini sudah kami wacanakan sejak sebulan sebelumnya. Awalnya hanya ingin jalan-jalan di antara dua long weekend karena tidak ada yang pulang kampung dengan tujuan ke Maribaya lewat Tahura Juanda. Namun karena sudah terlalu biasa, akhirnya tujuan diganti: Tangkuban Parahu.

Perjalanan ini sebetulnya tdak murni jalan kaki. Kami berangkat dari gerbang depan kampus ITB dengan angkot Cicaheum-Ledeng hingga terminal Ledeng dengan ongkos 2000 rupiah. Perjalanan naik angkot pun dilanjutkan dengan naik Ciroyom-Lembang hingga ke Jalan Jayagiri. Sayang saya tidak tahu persisnya di mana karena saya tidak terlalu memperhatikan jalan. Ongkos untuk angkot ini 3000 rupiah. Sekitar jam 9 pagi kami turun dari angkot dan memulai perjalanan dengan jalan kaki. Awalnya kami kebingungan harus masuk lewat mana, karena di situ terdapat beberapa jalan kecil dengan tembusan ke Jayagiri. Akhirnya kami putuskan untuk berhenti sejenak di warung gorengan dan bertanya pada beberapa orang dan mengecek GPS teman saya sembari menghangatkan tubuh dengan gorengan.

Perjalanan kami lanjutkan setelah kami mendapat kepastian jalan yang akan dipilih. Dari situ kami berjalan hingga ujung. Di tengah jalan kami melewati sebuah kompleks bangunan yang cukup luas yang bertuliskan Pusat Pendidikan Non Formal dan Informal milik Depdiknas (mungkin akan berguna sebagai patokan bagi pembaca yang juga ingin mencoba). Jalan yang kami lalui masih berupa jalan beraspal yang sedikit sempit, sekitar 4-5 meter, dan sudah mulai menanjak. Di ujung jalan, kami sampai di checkpoint pertama yaitu gerbang Taman Wisata Alam Jayagiri. Kami beristirahat sejenak dan mengecek perbekalan. Untuk masuk ke area hutan, kami membayar tiket masuk 4.000 rupiah per orang. Dan di situlah petualangan melewati jalan setapak dimulai.

Tanjakan awal tidak begitu terasa karena jalan yang lebar dan cukup landai. Kami mulai memeras tenaga lebih saat tanjakan mulai curam dan jalan tanah yang lumayan lebar digantikan dengan jalan setapak yang sempit dan cukup licin karena basah. Di situ kami mulai memasuki hutan pinus dengan selingan tanaman kopi. Bagi saya yang pemula dan jarang olahraga, jalan miring tersebut sudah mampu menghabiskan nafas saya. Satu-dua kali kami berhenti untuk sedikit melonggarkan nafas yang tersengal-sengal dan denyut jantung yang terlalu kencang. Di tengah jalan kami sempat berpapasan dengan rombongan lain dari Badan Eksekutif  Mahasiswa (BEM) Unikom. Kami pun sempat ngobrol sebentar bahkan berfoto karena ternyata kami dikira satu rombongan yang sama dengan mereka. Ternyata beberapa orang yang ikut ngobrol ternyata baru angkatan 2011. Maklum lah kalau belum mengenali semua rombongan mereka sendiri, hehehe. Kami pun berpisah jalan karena tujuan mereka berbeda, yaitu bumi perkemahan. Di situ memang ada persimpangan ke kiri dan ke kanan. Tujuan mereka ke kiri sedangkan Tangkuban Parahu dicapai lewat jalur ke kanan.

Beberapa meter kami berjalan di jalur yang relatif datar, akhirnya kami sampai di checkpoint berikutnya, sebuah area terbuka yang relatif lebih luas dengan beberapa warung dan saung. Ternyata tempat itu adalah area peristirahatan untuk pesepeda downhill maupun pengendara motor trail yang memang suka lintas alam di daerah tersebut. Di situ saya pertama kali melihat fenomena tubuh saya berasap. Bagian punggung saya tampak mengeluarkan uap. Mungkin akibat panas tubuh, luas permukaan, dan tekanan udara yang rendah yang menurunkan titik didih air (saya jadi ingat sekilas tentang kuliah peristiwa perpindahan).

Setelah beristirahat sejenak dengan minum beberapa teguk air dan mengisi sedikit energi dengan beberapa keping kue malkist, kami melanjutkan perjalanan. Dari situ, jalan relatif tidak sesulit sebeumnya. Walaupun tetap jalan tanah setapak yang sempit, tetapi sudah relatif datar dengan hanya sekali dua kali tanjakan. Jalan tanah tersebut mencekung karena sering dilewati oleh motor. Hanya satu tantangan dari jalan ini, yaitu melewati kubangan air dan tanah lempung yang licin. hahaha..

Checkpoint berikutnya adalah keluar dari jalan hutan hingga jalan beraspal (yang sebetulnya sudah banyak yang rusak) Dari situ tinggal mengikuti jalan saja ke atas. Jalan tersebut biasa digunakan mobil-mobil berjenis pick-up yang mengangkut sepeda-sepeda downhill. Namanya downhill, pesepeda umumnya hanya menikmati jalan turunnya saja sedangkan naiknya dibantu oleh pick-up (walaupun tetap saja jalur downhill itu berbahaya bagi yang belum berpengalaman).

Checkpoint terakhir sebelum kawah Tangkuban Parahu adalah pintu gerbang Taman Wisata Alam Tangkuban Parahu yang telah dikelola oleh pihak swasta. Kami berhenti sejenak dan duduk-duduk di bale-bale, selain untuk beristirahat juga untuk memikirkan cara bagaimana untuk masuk tanpa harus membayar. Namun terlambat, seorang wanita penjaga gerbang tiket sudah melihat kami dan memperhatikan. Mengawasi kalau-kalau kami akan membuat pergerakan untuk masuk tanpa tiket. Akhirnya kami nekat saja, salah seorang dari kami mencoba berjalan santai melalui sisi gerbang yang jauh dari pos tiket. Tapi karena petugas yang sudah awas, kami tetap saja dicegat. Saatnya taktik kedua, merayu dan membujuk agar diberi potongan. Tapi gagal. Kami tetap harus membayar 13.000 rupiah per orang

Tempat tersebut merupakan tempat parkir bagi bus-bus rombongan wisatawan. Dari sana terdapat dua opsi: naik mobil pengangkut menuju kawah, atau jalan kaki lagi menyusuri trotoar. Karena niat kami memang jalan kaki dan uang pun pas-pasan, ya sudah, kami pilih opsi kedua.

Matahari sudah di atas kepala, hari sudah siang sekitar pukul 12.00, dan kami sedikit terlambat. Area wisata sudah berjubel dengan mobil-mobil dan wisatawan baik domestik maupun mancanegara. Suasananya sudah begitu ramai. Kami putuskan untuk makan ketan bakar dulu dan sholat dzuhur sebelum melanjutkan rekreasi. Selepas sholat, kami pun berjalan (kaki) ke arah Kawah Upas, area wisata yang sedikit lebih jauh mengitari kawah. Kawah Tangkuban Parahu memiliki dua buah kawah di puncaknya. Bagian kawah yang ramai oleh wisatawan dan toko souvenir adalah Kawah Ratu, sedangkan satunya lagi adalah Kawah Upas. Kawah Upas ini masih sepi, jarang ada warung (hanya satu-dua saja), dan tidak diberi pagar pengaman. Tapi pemandangannya menurut saya lebih bagus daripada bagian Kawah Ratu. Mungkin karena tidak terlalu ramai sehingga saya bisa lebih bebas menikmati pemandangan. Hening, cocok untuk berkontemplasi.

Kami mulai turun gunung sekitar pukul 14.00. Pemandangan yang membuat kami geleng-geleng adalah begitu macetnya jalan menuju kawah oleh mobil pribadi. Antrian mengular hingga tempat parkir bus. Saya pun bertanya-tanya, apakah sempat wisatawan-wisatawan tersebut menikmati kawah sebelum ditutup. Kenapa tidak “dipaksa” saja para wisatawan tersebut untuk naik mobil pengangkut atau berjalan. Sungguh keramaian kendaraan pribadi ini mengganggu kawasan wisata. Selain karena asap polusinya, debu, panas, dan suara mesin juga cukup merusak suasana.

Jalan pulang yang kami pilih adalah jalan yang kami lewati saat berangkat. Ternyata jalan sudah semakin tidak nyaman karena baru dilewati motor-motor trail. Cekungan semakin dalam, air dan lumpur pun semakin tersebar ke mana-mana membuat jalan semakin licin. Namun setelah checkpoint kedua, jalan setapaknya masih kering dan perjalanan makin lancar karena kami tinggal turun saja.

Kami mampir sejenak di gedung milik Depdiknas yang kami lewati tadi untuk beristirahat dan menunaikan sholat ashar. Sebelum kembali ke Bandung, tak lupa kami membeli oleh-oleh susu segar dan yoghurt. Harga susu segar cukup murah sebesar 4.000 rupiah per liter dan yoghurt 3.500 rupiah per cup 180 mL. Perjalanan yang melelahkan tapi seru dan mengasyikkan. Sayangnya harus ditutup dengan jebakan macet malam mingguan yang menjadi rutinitas kota Bandung mulai dari Jalan Raya Lembang, hingga Setiabudi dan dilanjutkan dengan kemacetan di Jalan Siliwangi..

Budget:
Angkot Cicaheum-Ledeng (dari ITB s.d. terminal Ledeng) PP : 4.000 rupiah
Angkot Ciroyom-Lembang (dari Ledeng s.d. Jayagiri) PP : 6.000 rupiah
Taman Wisata Alam Jayagiri : 4.000 rupiah
Tangkuban Parahu : 13.000 rupiah
Total : 27.000 rupiah ++ (bekal dan oleh-oleh)
-per April 2012-

Tentang Estuyu

Estu Yuris Priangga Jakarta, 8 Oktober 1990 Teknik Kimia ITB angkatan 2008
Pos ini dipublikasikan di Jalan-jalan. Tandai permalink.

6 Balasan ke Newbie Tracker, Tangkuban Parahu via Jayagiri

  1. adimrf berkata:

    nice post kakak

  2. fhieluv berkata:

    aaaaaaakk.. pengen!😐

  3. nicil berkata:

    ih pengen! kenapa pria-pria semua deh yang ikut…
    yang ke gua mau ikut dooong😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s