Repertoar Ganeca

Pada hari Sabtu yang lalu, tepatnya pada tanggal 17 Maret 2012, Kabinet KM-ITB kembali mengadakan salah satu program kerjanya. Acara tersebut bertajuk “Repertoar Ganeca” dan diselenggarakan oleh Kementerian Kajian Strategis Kabinet KM ITB. Sebelum acara puncak Repertoar Ganeca sendiri, terlebih dahulu diadakan Pra-Acara berupa talkshow “Geopolitik Sarwa Nusantara” (namun sayangnya saya tidak dapat menghadiri acara tersebut). Acara inti sendiri dijadwalkan berlangsung mulai pukul 08.30-21.00, benar-benar acara yang marathon.

Saya menghadiri acara tersebut secara terputus-putus mulai pukul 09.00-10.00 lalu saya lanjutkan pukul 15.00-18.00. Saya keluar di tengah acara karena harus menghadiri rapat koordinasi LRPTN 2012 hingga pukul 15.00. Dan sengaja saya menyudahi partisipasi selepas maghrib karena kejenuhan berlama-lama di kampus selama satu pekan.

Saya tertarik menghadiri acara ini karena: 1. kosakata yang asing bagi saya, 2. publikasi yang begitu heboh. Publikasi acara Repertoar Ganeca begitu menarik (hingga sekitar 2000-an view di situs YouTube). Video tersebut berdurasi sekitar dua menit, menampilkan beberapa segmen keseharian mahasiswa ITB (ada yang sedang berpacaran, belajar bareng, dan sedang rapat) lalu kemudian diganggu atau dialihkan perhatiannya oleh seorang mahasiswi yang menari-nari nggak jelas.

Dari apa yang saya dapatkan, dari sambutan Presiden Kabinet KM ITB 2011-2012, dan dari publikasi, pesan yang saya dapatkan adalah bahwa Repertoar Ganeca ini memiliki keinginan untuk mendobrak stigma pergerakan dan aktivis mahasiswa. Selama ini, aksi pergerakan mahasiswa selalu diidentikkan dengan aksi turun ke jalan, kajian politik yang berat, dan sebagainya yang akhirnya menghasilkan sebuah dikotomi antara mahasiswa “aktivis” dan mahasiswa biasa. Hal inilah yang ingin didobrak sehingga semua mahasiswa tidak lagi mengotak-kotakkan kaumnya sendiri dan mau bergerak dan membuat perubahan ke arah yang lebih baik apapun cara dan bentuknya. Kajian bisa dilakukan dengan lebih santai dan informal, bahkan untuk membahas masalah-masalah yang tidak terpikirkan, adu karya nyata, dan lain-lain dapat dikategorikan sebagai bentuk pergerakan. Salah satu narasumber berkata bahwa “Demo itu satu dari triliunan cara pergerakan. Demo hanya butuh waktu sehari dan dari sehari butuh 6 jam, kita masih punya waktu 364 hari dalam setahun untuk melakukan pergerakan lain”.

Rangkaian acara di dalam Repertoar Ganeca ini berupa pemaparan isu-isu yang dibahas oleh kabinet selama satu tahun. Ada tiga isu yang diangkat kabinet tahun ini, yaitu isu tantangan industri dan ancaman deindustrialisasi, pendidikan (terkait pendidikan tinggi), dan isu energi (terkait subsidi BBM). Selain itu ada pula acara talkshow “Quo Vadis, Gerakan Mahasiswa?” yang menghadirkan bang Fadjroel Rahman, aktivis era 80-an, peluncuran buku Repertoar Gerakan Mahasiswa, dari ITB untuk Bangsa, dan ditutup dengan drama musikal. Acara ini juga diisi oleh stand Kelompok Studi Ekonomi Pasar Modal, 3D Printing, dan Kampanye Perlindungan Perokok Pasif.

Saya begitu tertarik dengan acara talkshow Quo Vadis Gerakan Mahasiswa. Di dalamnya dibahas mengenai apa sih esensi dari pergerakan mahasiswa, bagaimana cara-cara mahasiswa bergerak, dan bagaimana pergerakan masif mahasiswa mencetak sejarah pada tahun 1966 dan 1998. Menurut saya, kita tidak bisa begitu saja meng-copycat benchmark pergerakan mahasiswa pada tahun 1966 dan 1998. Ada banyak faktor yang memengaruhi gerakan pada dua masa tersebut yang juga termasuk pengaruh eksternal (situasi politik pemerintahan saat itu). Sehingga yang saya simpulkan adalah yang perlu diwariskan dari gerakan mahasiswa itu ada dua hal: nilai pergerakan dan output untuk menghasilkan elemen-elemen demokrasi saat keluar dari kampus. Hal yang menurut saya kurang diresapi oleh kemahasiswaan saat ini dan perlu direfleksikan kembali agar organisasi mahasiswa kembali menemukan arah pergerakannya dan tidak hanya hura-hura saja (walaupun sebenarnya hiburan juga perlu untuk mahasiswa).

Sayangnya acara ini sepi pengunjung. Padahal ekspektasi saya, aula timur ITB akan penuh dengan massa kampus yang penasaran karena publikasi yang begitu heboh. Mungkin hanya sekitar 30-40 orang saja yang hadir, dan itu pun tidak terlihat warna-warni himpunan. Sayang seribu sayang, momen untuk berefleksi secara massal terlewatkan. Mungkin acara ini kalah pamor dengan Kuliah Studium Generale yang diadakan berseberangan di aula barat dan berhasil menghadirkan sang il fenomeno, Menteri Negara BUMN, Pak Dahlan Iskan. Atau mungkin mahasiswa sedang lesu untuk memakmurkan kembali organisasinya. Atau mungkin memang mahasiswa telah berubah menjadi apatis. Mari berefleksi…

Suasana sepi dalam aula timur, apakah kita memang sedang lesu? Mari kita sama-sama refleksi diri.

Tentang Estuyu

Estu Yuris Priangga Jakarta, 8 Oktober 1990 Teknik Kimia ITB angkatan 2008
Pos ini dipublikasikan di Sekitar. Tandai permalink.

Satu Balasan ke Repertoar Ganeca

  1. nicil berkata:

    atau mungkin mahasiswanya sedang ada kegiatan di kampus lain… *loh curcol😛

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s