Kereta Api Malabar Bandung – Malang 23 Februari 2012

Pada tanggal 23 Februari lalu, saya kembali ke Malang dari kota rantauan saya, Bandung. Saya kembali ke Malang dengan tujuan untuk memeriksakan tulang tangan kanan saya yang baru dioperasi (seperti pada tulisan saya “Patah Tulang“). Seperti biasa saya menggunakan moda transportasi jarak jauh yang sangat ekonomis dengan banyak penggemar (sampai-sampai naik ke atapnya) dan paling merakyat, kereta api. Yaaa, walau belakangan suasana “merakyat” sudah mulai tidak terasa semenjak pedagang asongan tidak diperbolehkan masuk ke gerbong. Bahkan di beberapa stasiun pedagang asongan tidak boleh masuk ke peron.

Seperti biasa, karena pulang hanya untuk sementara dan kondisi tangan yang masih lemah saya berkemas seadanya. Hanya membawa laptop, sepasang pakaian ganti, roti, dan sebotol air minum. Di samping printilan-printilan lain seperti charger dan kebiasaan saya membawa korek (walaupun tidak merokok), senter, dan buku catatan. Saya berangkat dari kosan pukul 15.00 dan tiba sepuluh menit sebelum kereta berangkat pukul 15.30. Pukul 15.30 dan rangkaian KA Malabar Ekspres yang saya tumpangi pun mulai bergerak. Saya berangkat tanpa perasaan aneh atau spesial. Maklum, sudah semester akhir dan terbiasa naik kereta api.

Memasuki daerah Nagreg dan ternyata mendung seharian menjatuhkan hujan yang cukup lebat. Di sini lah pikiran saya mulai berimajinasi. Dimulai dari kenyataan bahwa gerbong kereta api begitu memisahkan saya dengan dunia luar. Bagaimana tidak, gerbong yang ditarik oleh lokomotif ini mencapai kecepatan 100-an kilometer per jam (bahkan rekor di luar negeri sudah mencapai 200 km/jam). Saya tidak merasakan ada hujan di luar, hanya bisa melihat tetes-tetes air di jendela. Tidak seperti di dalam bus atau mobil. Dan katanya tetesan hujan itu membawa perasaan senang dan lega dan bahkan ada yang menjadikannya terapi. Ya, memang hujan itu adalah limpahan berkah. Hanya saja, di gerbong kereta saya begitu tidak dapat merasakannya. Kesebalan pertama saya. Sayang sekali memang, hehehe.

Tetesan hujan di jendela gerbong Malabar Ekspres

Saya mulai memikirkan banyak hal yang biasa dihadapi mahasiswa tingkat akhir. Di luar hari mulai gelap dan saya tidak dapat melihat pemandangan. Itulah kesebalan saya yang kedua saat membandingkan naik bus dan naik kereta. Kereta melewati hutan-hutan tanpa penerangan. Hingga akhirnya saya alihkan pikiran ke alQur’an hingga saya tertidur.

Saya terbangun di Jogja sekitar setengah satu dini hari. Karena tidak ada yang aneh-aneh dan saya pun sedang capek saya tidur lagi. Saya pikir perjalanan ini memang biasa saja, dan seperti biasa, sepertinya kereta ini terlambat.

Saya terbangun kembali sekitar jam lima pagi dan bergegas sholat subuh. Kereta memasuki sebuah stasiun dan pikiran saya, paling-paling baru sampai di Tulungagung, empat jam dari Malang. Tapi saya kaget saat membaca plang stasiun dan ternyata saya sudah sampai di Blitar, dua jam dari Malang. Wow..!! Tidak biasanya kereta Malabar selaju ini. Kereta pun berangkat lagi dan saya tidak ingin tidur lagi karena terlalu excited. Saya cek lagi tiket kereta saya dan tertulis kedatangan pukul 07.04. Menjelang pukul 06.30 kereta sudah sampai di Kepanjen. Seperti biasa saya telepon rumah untuk minta dijemput. Dan orang rumah seperti terkejut karena biasanya ditelepon pukul 7 atau 8. Bapak dan Ibu sedang sibuk pagi waktu itu. Melewati jembatan Sungai Brantas, saya melihat jam tangan. 7.03 lebih 50 detik. Dan pas, 07.04 kereta berhenti di Stasiun Kota Baru Malang. What an achievement..!!

Saya kira waktu itu PT KAI memang sedang menunjukkan performa terbaiknya untuk seterusnya. Tiga hari berselang dan saya kembali berangkat ke Bandung dengan moda keren ini. Saya begitu excited dan menantikan kereta saya datang tepat waktu di Stasiun Hall. Di tiket tertera kedatangan pukul 06.59. Namun pupus asa saya ketika jam segitu kereta bahkan belum tiba di Stasiun Kiaracondong. Ternyata memang kebetulan. Ternyata walaupun memang ada perbaikan sistem, namun belum sesempurna yang diharapkan oleh saya (mungkin mewakili publik pengguna kereta api lainnya juga).

Kereta api PT KAI

Dan pikiran saya melayang lagi waktu saya TPB dan dihadapkan pada kasus-kasus keterlambatan kereta api. Waktu itu saya berpikir, coba anak TI ITB masuk ke perkeretaapian. Mereka kan ahli untuk mengatur sistem. Bisakah mereka memperbaiki sistem penjadwalan kerete setepat dan secepat proses assembling mobil atau motor yang biasa mereka urus selama ini. I’m still wondering until nowadays…

Tentang Estuyu

Estu Yuris Priangga Jakarta, 8 Oktober 1990 Teknik Kimia ITB angkatan 2008
Pos ini dipublikasikan di Catatan. Tandai permalink.

8 Balasan ke Kereta Api Malabar Bandung – Malang 23 Februari 2012

  1. naocakep berkata:

    itu jadwal kayaknya emang berusaha ditepati Tu, cuman kadang kereta juga butuh ngentang lama di stasiun tertentu (entah maintenance entah ngapain). Ini biasanya agak bikin lambat😀 hehe

    • Estuyu berkata:

      nah, sekali lambat itu biasanya menimbulkan clash jadwal lay. sekali clash efeknya beruntun, soalnya relnya juga kebanyakan cuma satu line, jadi harus gantian. contohnya malabar kalo telat bakal clash jalur ama argo wilis, pasundan, dan lodaya. yang akhirnya mengorbankan waktu. seandainya clash bisa dihindari, jadwal kemungkinan bisa ditepati. itulah pentingnya pengaturan sistem. CMIIW….:P

  2. nicil berkata:

    hemm semoga malabar bisa segera menyusul argowilis dalam ketepatan waktu
    dua kali terakhir naik argowilis pas habis libur januari dan kemarin banget habis tipes di rumah, nyampe bandung tepat waktu, malah kecepetan beberapa menit (eh ato jam hpku yang kecepetan 3 menit ya?)😆
    kalo turangga sampai surabaya masih telat dikit sih, nggak sampai setengah jam sih
    tapi mengapa oh mengapa sekarang pengantar nggak boleh masuk peron stasiun,jadi harus bawa tas sendiri…
    duh maap kepanjangan,jadi curhatan pengguna kereta ini ._.

    • Estuyu berkata:

      best record menurutku tetep si mutiara selatan nin, sepertinya….:p
      soalnya dulu argowilis pernah kemaleman sampe jam 9. hahahaha…
      yang nggak enak tu ya asongan. di jogja dulu ada asongan gudeg + ayam yang enak puooolll…mantap jaya! hahahaha. tapi sekarang udah gak ada. tapi ya bingung juga sih, kadang mengganggu orang yang lagi tidur di kereta, tapi kadang juga jadi penolong di saat harga makanan dari gerbong makan sangat tidak wajar. hahahaha..

      • nicil berkata:

        mutsel kalo ke surabaya tepat waktu tapi yang ke bandung ampun deh ngaretnya
        argowilis aku pernah sih dulu tingkat 1 nyampe bandung jam setengah 10 malem gara-gara listriknya mati dan mesti diservis di jogja -___-
        hem kalo pedagang menurutku tetep ada aja di stasiun tapi ga usah naik gerbong, jadi penumpang yang butuh bisa beli di pintu gerbong, yang tidur juga ga keganggu sama “lanting… lanting… kopi mijon popmi… narasi daraging…”😀

  3. yourha berkata:

    waah…saya blum pernah mencoba perjalanan naik krta api sejauh itu. ping jauh cuma 2 jam. mna jalannya lelet..hehe

  4. Mahdi berkata:

    Saya baru pertama kali ini naik Malabar (saya sedang di atasnya saat nulis ini) ketepatan waktunya sungguh buruk. Saat ini 07 55 dan baru sampai Nagreg, jadwalnya jam 06 49 sdh sampai Bandung. Perjalanan Bandung-Malang pun harus molor sekitar satu jam. Sangat berbeda dengan kereta Argo Wilis yang pernah saya tumpangi sekali, saya tiba di Bandung bahkan 30 menit sebelum jadwal. Saya berpikir apakah karena di Malabar terdapat gerbong ekonomi sehingga prioritas pelayanannya rendah?

    Semoga ke depannya PT KAI bisa menjadi lebih baik lagi terutama dalam ketepatan waktu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s