Patah Tulang

Beberapa waktu yang lalu saya membuat sebuah keputusan yang heboh yang akhirnya membuat banyak orang bertanya-tanya. Sebetulnya karena tidak ingin banyak yang bertanya, saya hanya memberi kabar kepada kawan dekat saya dengan asumsi saya akan kembali ke kampus dengan kondisi “tampak” baik-baik saja. Namun keadaan tidak seperti yang diharapkan. Alih-alih saya berjalan dengan tampang datar dan biasa-biasa saja, saya harus ke kampus dengan tangan kanan di dalam gendongan arm sling dan pertanyaan pun berdatangan, hahaha..

Yep, banyak yang tanya, ” tangan lo kenapa ga?”, atau “yu, lo abis kecelakaan?”. Saya kesulitan untuk menjelaskan karena ceritanya agak panjang. Akhirnya saya menjawab dengan bercanda, “korban tabrak xen*a“, atau “abis berantem“, hehe..

Jadi, begini kronologis yang sebenarnya. Kejadian ini bermula saat saya masih duduk di bangku kelas dua SMP. Pada waktu itu alat transportasi utama saya untuk berangkat dan pulang sekolah adalah sepeda (sepedanya hilang di Bandung dicuri orang). Suatu sore setelah pulang dari latihan pramuka menjelang lomba tingkat, saya pulang dengan membawa beban lebih berat di dalam tas saya (perlengkapan latihan). Baru beberapa ratus meter dari gerbang sekolah, saya hilang konsentrasi hingga akhirnya menabrak trotoar dan terpelanting. Awalnya saya merasa tidak ada masalah. Hingga saya menyadari ada yang aneh dengan tangan saya yang ternyata bengkok akibat mengalami fisura (retak tulang).  Walhasil, tangan kanan saya dibalut gips selama satu bulan dan harus melewatkan banyak hal.

Singkat cerita, setelah sebulan, gips dibuka. Dan betapa syoknya saya saat melihat bahwa tangan kanan saya tetap bengkok. Ternyata treatment darurat yang saya alami dulu kurang baik sehingga penempatan tulangnya tidak sempurna dan akhirnya tulang saya bengkok. Di situlah saya mulai merasakan trauma. Tidak hanya trauma fisik karena tulang yang bengkok dan limitasi otot, tetapi juga trauma batin. Trauma batin karena saya melewatkan banyak kesempatan yang menurut saya terbuang sia-sia waktu itu (tidak jadi ikut lomba tingkat dan dieliminasi dari kelas unggulan karena tidak mengikuti beberapa ujian) dan menyadari adanya keterbatasan fisik yang membuat saya tidak dapat melakukan beberapa hal. Dokter sempat menawarkan untuk memperbaiki namun trauma membuat saya tidak memiliki KEBERANIAN. Dan sejak itu pula saya tidak mau lagi bercita-cita menjadi dokter.

Hingga terjadi titik balik yang membuat saya memberanikan diri membuat perubahan. Pada awal tingkat empat, tangan saya mulai rajin mengalami sakit dan gampang lelah. Setelah diperiksakan ke dokter, ternyata otot saya nyelempit akibat tulang yang tidak pas sehingga gampang kram. Dari situlah, saya mulai bertanya kepada orang tua saya untuk melakukan operasi, untuk memperbaiki tulang saya dan (harapannya) menghilangkan trauma dan ketakutan saya. Operasi tentunya memakan biaya dan butuh waktu recovery dan ini adalah opsi yang harus segera diputuskan.

Dan tibalah saat operasi. Entah berapa lama berlalu untuk berpikir, tau-tau saya sudah berada di ruang operasi. Dan di bawah lampu operasi ini, di mana otak saya sudah berkata, “tanggung semua konsekuensi, no way back“, saya mulai berpikir (yang mikirnya dilanjutkan setelah bangun dari efek bius).

Bahwa hidup ini adalah kombinasi dari begitu banyak pilihan. Setiap pilihan menghasilkan berbagai macam konsekuensi (yang harus disikapi dengan bijak dan disyukuri apapun bentuknya). Dan kemudian setiap konsekuensi akan mengantarkan kepada pilihan-pilihan berikutnya. Di setiap adanya pilihan, dibutuhkan optimisme, kesiapan dan ketegasan dalam menentukan. Dan di baliknya dibutuhkan kebijakan. Dua hal tersebut dibutuhkan untuk melangkah. Tanpanya hidup hanya berisi kebimbangan dan kekecewaan, dan turun menjadi penyakit hati lainnya tanpa adanya progresifitas, tanpa semangat dan karya nyata.

Pen terpasang di tulang saya

Tentang Estuyu

Estu Yuris Priangga Jakarta, 8 Oktober 1990 Teknik Kimia ITB angkatan 2008
Pos ini dipublikasikan di Catatan. Tandai permalink.

2 Balasan ke Patah Tulang

  1. nicil berkata:

    oooh ceritanya dari jaman dahulu kala toh
    hebat hebat bis amengatasi ketakutan
    semoga cepet sembuh😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s