Jakarta Trip 2011

Baru dua minggu berlalu pada liburan non-liburan, aku sudah dilanda kejenuhan. Dan karena aku sudah tidak tahan lagi, akhirnya aku mengajak temanku yang KP di Bandung, Fatchun namanya, untuk jalan-jalan mencari suasana baru. Entah kenapa, tujuan yang terpikirkan adalah wisata kota tua di Jakarta. Sebelum-sebelumnya, aku dan teman-teman kosan sering merencanakan untuk jalan-jalan dan backpacking-an. Namun berbagai rencana itu hanya menjadi rencana di atas kertas, kandas oleh tipisnya dompet kami dan waktu liburan kami yang kadang tidak sinkron. Akhirnya aku dan Fatchun memilih kota tua yang kami anggap tidak akan begitu menguras isi dompet anak kos-kosan.

Niat dan tekad sudah kami kumpulkan, namun dengan santai dan bodohnya kami baru membuat perencanaan H-1. Itu pun dengan sangat “asal” karena kelelahan akibat aktivitas masing-masing. Walaupun aku lahir di Jakarta, aku pindah pada saat usia 3 tahun dan setelah itu baru sekali aku ke sana lagi pada kondisi yang sudah jauh berbeda. Sedangkan Fatchun belum pernah ke sana. Berbekal keyakinan, Fatchun tidur lebih awal untuk memastikan kami bangun untuk mengejar kereta Argo Parahyangan pukul 05.30. Sementara aku yang takut kami tidak akan bangun, mencoba begadang. Namun usaha tersebut gagal pada pukul 01.00.

Ketika aku terbangun, refleksku menuntunku untuk mencari tahu jam berapa saat itu. Dan alangkah kagetnya aku yang menyadari bahwa aku bangun pukul 04.55, 35 menit sebelum kereta berangkat. Aku panik dan langsung menggedor pintu Fatchun yang ternyata belum bangun. Begitu dia terbangun, semangat kami berdua meredup. Namun sekali lagi dengan bermodal tekad sekeras baja kami melakukan persiapan seadanya dan membawa bekal seadanya pula. Aku membawa motorku mengebut dengan Fatchun di belakang dan kemudian berlari-lari ke arah loket sesampainya di stasiun. Betapa leganya aku ketika mendapati jam di stasiun masih menunjukkan pukul 05.23. Kami bersyukur masih dapat berangkat walaupun gagal mendapat tiket kelas eksekutif yang sedang promo. Aku menikmati perjalanan ditemani buku “Dewa Ruci”.

Pukul 09.30 kami sampai di ibukota negara tercinta. Tempat yang kami kunjungi pertama kali adalah Monumen Nasional, yang mulai dibuka sejak tahun 1975. Niat hati ingin menikmati Jakarta dari puncaknya, apa daya antrean pengunjung begitu mengular mengitari selasar Monas. Jadilah tiket yang sudah kami beli itu hangus. Kami pun melanjutkan perjalanan ke kota tua.

Stasiun Kota

Daerah wisata kota tua Jakarta terletak di dekat Stasiun Kota Jakarta. Terdiri atas beberapa museum dan bangunan-bangunan yang berdiri sejak zaman Belanda dengan arsitektur yang dijaga keasliannya. Untuk mengaksesnya dari Stasiun Gambir, kami naik TransJakarta jurusan Harmoni (koridor 2), kemudian disambung dengan TransJakarta ke arah Kota (koridor 1). Ternyata naik busway sebegitu mudahnya asal tahu koridor-koridornya.

Kami tiba di daerah wisata kota tua sekitar pukul 10.00. Cukup terik namun menurut saya itu hari yang indah untuk menikmati kota tua. Tur kami awali dengan mengunjungi Museum Bank Mandiri, kemudian dilanjutkan berturut-turut Museum Bank Indonesia, Museum Wayang, Museum Keramik, dan ditutup oleh Museum Fatahillah. Suasana yang berbeda dari yang berhari-hari aku hadapi di Kota Bandung. Bukti sejarah yang nyata dan terawat. Cukup untuk melepaskan penat.

Stasiun Tanjung Priok

Setelah puas berjalan-jalan dan mencari souvenir, kami melanjutkan perjalanan menuju Stasiun Tanjung Priok. Sebuah stasiun lama yang difungsikan kembali dan telah diresmikan sebagai cagar budaya. Kami menuju ke sana dengan TransJakarta koridor 1 ke arah Harmoni, dilanjutkan dengan koridor 2 ke arah Cempaka Timur, dan terakhir transit ke koridor 10 dengan tujuan akhir Tanjung Priok. Suasana pelabuhan bongkar muat begitu kental di sana, dengan lalu lalangnya truk-truk yang membawa kontainer, serta tumpukan kontainer yang ada di pelabuhan bongkar muat. Di tengah hiruk pikuk tersebut berdiri sebuah stasiun lama, Stasiun Tanjung Priok.

Sebenarnya kami ingin melanjutkan perjalanan ke Pelabuhan Sunda Kelapa. Namun apa daya, jam di tangan sudah menunjukkan pukul 16.30 dan kami baru tahu bahwa Pelabuhan Sunda Kelapa lebih dekat dengan Kota daripada Tanjung Priok. Ooooohhh…..fail! Mungkin memang saatnya untuk kembali ke Bandung. Setelah melepas lelah di Masjid Istiqlal hingga ba’da Isya’, kami pulang kembali ke Bandung bermodal dua lembar tiket promo seharga Rp 10.000,00 tiap lembarnya. Argo Parahyangan berangkat pukul 20.30 mengantar kami kembali ke Parijs van Java, Bandung ibukota Priangan.

Dan perjalanan itu membuka mimpiku untuk perjalanan-perjalanan berikutnya.

Tentang Estuyu

Estu Yuris Priangga Jakarta, 8 Oktober 1990 Teknik Kimia ITB angkatan 2008
Pos ini dipublikasikan di Jalan-jalan. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s