Musyawarah

Ilustrasi musyawarah (dari apajaboleee.wordpress.com)

Musyawarah, menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) adalah, mu-sya-wa-rah: (n) pembahasan bersama dengan maksud mencapai keputusan atau penyelesaian masalah; perundingan; perembukan. Menurut wikipedia, musyawarah berasal dari bahasa arab syawara yang berarti berunding, urun rembuk atau mengatakan dan mengajukan sesuatu. Musyawarah begitu lekat dengan kehidupan masyarakat indonesia yang mungkin diawali oleh kehidupan kesukuan. Di dalam kehidupan bermasyarakat, musyawarah sering dijumpai dalam berbagai istilah, syuro, rembug desa, kerapatan nagari, dan lain-lain. Dalam musyawarah dibicarakan hal-hal penting yang menyangkut kehidupan dan kepentingan bersama. Seperti contohnya ritual keagamaan, perayaan hari besar, pertanian, fasilitas umum, dan lain-lain. Bahkan terkadang musyawarah digunakan untuk membantu penyelesaian masalah-masalah privat seperti hutang piutang, warisan, pernikahan, dan seterusnya.

Dalam musyawarah, juga terdapat istilah yang disebut mufakat. Dalam KBBI, mufakat adalah mu-fa-kat: (a) setuju; seia sekata; sepakat; (n) persetujuan; kata sepakat. Mufakat adalah output dari sebuah musyawarah. Dalam musyawarah, dirundingkan solusi atas setiap permasalahan hingga tercipta persetujuan. Persetujuan ini harus didasari oleh nilai yang kuat. Nilai yang dimaksud di sini tentu saja nilai rasio (akal sehat/common sense) dan juga tidak menabrak norma-norma agama, hukum, ataupun adat istiadat yang dianut oleh masyarakat setempat. Dalam sebuah musyawarah tidak jarang terjadi perdebatan yang menurut saya adalah sebuah kewajaran karena setiap orang memiliki sudut pandang yang berbeda. Dan menurut saya perdebatan memiliki fungsi untuk mengerucutkan opsi-opsi solusi menjadi solusi yang dapat diterima semua pihak dan solutif serta mengasah solusi menjadi lebih baik, meningkatkan kemanfaatan dan mengurangi kemudhorotan. Tentu saja dengan didasari semangat yang sama untuk memecahkan masalah, bukan untuk menunjukkan siapa yang paling hebat. Di sini dibutuhkan sikap ikhlas dan openmind terhadap segala pendapat dan kemungkinan. Menurut Dr. Dorodjatun  Kuntjoro Jakti, bahkan mufakat hasil musyawarah bisa berupa tiga macam: setuju untuk bersetuju, setuju untuk tidak bersetuju, dan setuju untuk menunda persetujuan. Masing-masing bisa dipilih asalkan rasional.

Tak jarang musyawarah berakhir dalam sebuah jalan buntu (deadlock) di mana setiap opsi tidak bisa sepenuhnya diterima karena memiliki argumen yang sama-sama kuat. Pada kondisi seperti ini, seringkali akhirnya keputusan diambil dengan pengambilan suara terbanyak (voting) untuk melihat keberterimaan masyarakat terhadap setiap opsi. Hal ini bisa diambil jika memang ada alasan untuk menyederhanakan apabila diskusi dilanjutkan akan semakin berbelit-belit.

Dalam sebuah musyawarah, umumnya diawali dengan pemaparan masalah yang dihadapi. Kemudian dilanjutkan dengan pembahasan kriteria solusi yang akan dipilih. Selanjutnya penjelasan mengenai opsi-opsi yang dihadapi dan dilanjutkan dengan diskusi. Di dalam musyawarah diperlukan juga seorang moderator yang peka dan tanggap, luwes dan terbuka, dan semaksimal mungkin netral dan objektif terhadap semua opsi. Diskusi biasanya akan mengerucut kepada opsi yang terbaik dan dapat diterima, sehingga sisa waktu yang ada umumnya digunakan untuk meyakinkan pihak yang tidak setuju atau ragu untuk bersama-sama menerima keputusan dengan atau tanpa kompromi.

Suasana musyawarah desa (dari jombangkab.go.id)

Musyawarah dalam perspektif saya

Diawali dengan ideologi yang saya pegang, yang bermula dari keyakinan yang saya anut, yaitu agama saya, agama Islam saya percaya bahwa metode ini adalah cara terbaik untuk menyelesaikan sebuah masalah. Perintah untuk melaksanakan musyawarah disebutkan di beberapa ayat, antara lain terjemahannya sebagai berikut:

Dan (bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan Tuhannya dan mendirikan shalat, sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah antara mereka; dan mereka menafkahkan sebagian dari rezki yang kami berikan kepada mereka (Q.S. Asy Syuro 38)

karena itu maafkanlah mereka dan mohonkanlah ampunan untuk mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu… (Q.S. Ali ‘Imron 159)

Dan karena saya yakin bahwa agama Islam adalah rahmat untuk alam, maka saya yakin pula bahwa metode ini tepat digunakan dalam segala tantangan, tinggal bagaimana manusia mau atau tidak memakainya.

Selain itu, ruh musyawarah pun telah mengakar dalam budaya bangsa saya, bangsa Indonesia. Diawali dari kehidupan kesukuan, hingga kehidupan bernegara. Salah satu falsafah bangsa ini dalam Pancasila juga menyebutkan pentingnya mengambil keputusan bersama.

Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan.

Beberapa kali saya ikut serta dalam musyawarah, mulai dari yang kecil seperti dalam rapat, atau yang cukup besar seperti dalam pemilihan pemimpin organisasi. Kadang musyawarah itu memang panjang dan berlarut-larut, kadang memang ada ketegangan, namun di situlah romantikanya. Mengasah wawasan intelektual, pikiran terbuka, dan kekritisan terhadap suatu masalah. Dan pada akhirnya, keputusan yang diambil bersama-sama merupakan sebuah kepuasan. Meyakinkan semua pihak adalah sesuatu yang melegakan. Dan akhirnya komitmen dapat diperoleh untuk mendukung keputusan bersama.

Permasalahan yang ada

Dalam perspektif saya, budaya musyawarah ini mulai luntur dari bangsa Indonesia. Mungkin saya baru melihat di kampus saya terlebih dahulu. Di mana seharusnya calon-calon pemimpin dilatih untuk peka dan kritis terhadap masalah yang ada dan mau memikirkan solusi bersama-sama. Saat ini kehidupan bermusyawarah dan beradu argumen sudah luntur. Orang-orang mulai nyaman dengan dunianya sendiri dan cenderung menghindari konflik. Padahal, menurut saya adanya sedikit ketegangan adalah suatu pertanda kepekaan dan keniatan untuk menyelesaikan masalah. Sedangkan menghindari konflik berarti menyembunyikan masalah hingga sampai akhirnya kita tidak tahu apakah masalah itu membesar dan menjadi lebih fatal akibatnya atau tidak.

Orang-orang pun terjebak dalam budaya instan. Menginginkan penyelesaian masalah yang instan dan tidak mengakar. Apakah karena kami dilahirkan di dunia kopi, susu, dan mi instan? Sedikit-sedikit, voting menjadi pilihan pertama dan utama dalam menentukan keputusan. Bagi saya, voting tetaplah harus menjadi bagian dari musyawarah bila dirasa memang tidak memungkinkan untuk diadakan musyawarah atau benar-benar deadlock. Menurut saya, permasalahan voting adalah bobot yang sama antara orang yang ahli dan tidak (melahirkan tuntutan agar semua orang benar-benar cerdas) ; dalam zaman di mana imaging diutamakan, maka yang populer-lah yang akan menang (padahal yang populer belum tentu yang paling baik dan benar); dan berpotensi melahirkan konflik-konflik lebih besar oleh “barisan sakit hati”.

Kembali ke dalam musyawarah, dalam suasana demokrasi saat ini, benar-benar dituntut masyarakat yang benar-benar cerdas dan peka dalam berbagai lapisan. Kekuasaan ada di tangan rakyat dan sudah seharusnya rakyat juga memiliki solusi terhadap permasalahan yang dihadapinya sendiri. Jangan sampai terjebak dalam mobokrasi”.

Yaaa, mungkin itu sekedar pemikiran saya. Sekedar mengingatkan kembali untuk bersama-sama memecahkan masalah dengan musyawarah. Semoga prasangka negatif saya akhirnya hanya berakhir sebagai prasangka saja.

Suasana sidang wakil rakyat di gedung DPR (dari dpr.go.id)

Tentang Estuyu

Estu Yuris Priangga Jakarta, 8 Oktober 1990 Teknik Kimia ITB angkatan 2008
Tulisan ini dipublikasikan di Opini. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s