Archive for February, 2012

Obesitas Intelektual

19 February 2012

Sebelumnya mohon maaf apabila ada pembaca yang merasa tidak enak dengan judul tulisan ini maupun tulisan ini nanti.

Obesitas intelektual, adalah istilah yang saya buat sendiri, muncul secara spontan. Mungkin karena bingung melihat kondisi dunia pendidikan di negara saya dengan segala dinamikanya. Obesitas adalah istilah dalam dunia kedokteran yang menyatakan keadaan kelebihan berat badan akibat dari penimbunan lemak tubuh yang berlebihan. Kondisi ini diakibatkan oleh ketidakseimbangan konsumsi dan pembakaran bahan-bahan bakar dalam makanan karena faktor kelainan genetik, faktor lingkungan, dan faktor psikis. Dari penjelasan ini, saya ambil terutama kata-kata kelebihan, ketidakseimbangan, dan kelainan.

Sedangkan menurut kamus besar bahasa Indonesia secara verba (noun) adalah 1) mempunyai kecerdasan tinggi; cendekiawan atau 2) totalitas pengertian atau kesadaran, terutama yang menyangkut pemikiran dan pemahaman. Yang saya maknai adalah intelektual adalah perihal kemampuan penguasaan pemikiran dan pemahaman (ilmu).

Istilah ini saya ciptakan sendiri melihat permasalahan yang terjadi di Indonesia. Negeri ini rasa-rasanya sudah begitu lama berjalan di tempat (kalau tidak boleh dibilang mengalami kemunduran) atau dalam fasa auto pilot menurut beberapa orang. Negeri auto pilot yang dimaksud mungkin karena negeri tidak memiliki pemimpin yang memiliki visi kemajuan yang jelas, sehingga “kepemimpinan” negeri digunakan hanya sebatas untuk mempertahankan adanya sebuah negara Indonesia.

Kembali ke masalah intelektualitas. Kali ini saya ingin menyoroti dunia pendidikan yang begitu menarik perhatian saya. Pendidikan  di negeri ini secara umum terbagi menjadi beberapa fasa, pendidikan anak usia dini (pilihan), pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi. Dari tahapan-tahapan pendidikan tersebut, diharapkan dihasilkan peserta didik yang

aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat,bangsa dan negara. -dikutip dari UU no. 20/2003-

(diambil dari koriistikomahngeblogs.blogspot.com)

Lalu kita lihat saja realitas yang selama ini memang kita rasakan. Sistem pendidikan kita telah berhasil menelurkan berjuta sarjana dengan keahlian-keahlian spesifik sesuai dengan bidangnya, melahirkan master-master, doktor, dan profesor.

Lembaga-lembaga pendidikan nasional pun berlomba-lomba menaikkan standarnya. Adanya amanat undang-undang untuk menghasilkan lulusan bertaraf internasional akhirnya mendorong terbitnya program RSBI. Dengan mendasarkan kompetensi berdasarkan pada standar internasional, para lulusan diharapkan menjadi individu-individu yang mampu bersaing dengan lulusan luar negeri di kancah persaingan global. Tentunya hal tersebut juga dipengaruhi oleh datangnya era globalisasi di mana jarak tidak lagi menjadi masalah dan negara-negara semakin “menyatu”.

Dengan adanya kompetensi internasional tersebut, diharapkan roda perekonomian Indonesia akan semakin lancar. Perdagangan dengan dunia internasional akan semakin terjalin dan investasi akan berdatangan ke Indonesia untuk mendirikan industri-industri dan pusat bisnis. Pendapatan negara akan semakin besar dengan perolehan pajak yang banyak. Dengan demikian, secara makro perekonomian akan tampak baik-baik saja.

Sepertinya uraian di atas terasa cukup menarik di mana kita memang saat ini dihadapkan pada persaingan yang semakin hebat, dunia yang sungguh cepat sekali berubah. Namun, ada sisi di mana kondisi yang saya uraikan tersebut memicu kondisi Indonesia hingga mengalami obesitas intelektual.

Bila kita lihat Indonesia secara mikro…waahhh, akan terlihat wajah rakyat Indonesia yang sebenarnya, yang mungkin akan jauh berbeda dari data-data makro (seperti GDP) yang kini menempatkan Indonesia pada G20. Fakta yang setiap hari kita hadapi adalah masih banyak penduduk miskin yang hidup jauh di bawah batas kemiskinan, masih banyak anak terlantar dan anak jalanan yang untuk merengkuh pendidikan standar saja sudah tidak sanggup (apalagi standar internasional), masih banyak pengangguran, konflik sosial, dan sebagainya. Dan sumber masalah tersebut tentu saja adalah masalah kesejahteraan, yang secara sederhana dapat diukur dari pendapatan harian setiap individu. Artinya, terjadi sebuah kesenjangan yang cukup lebar (kalau tidak boleh saya sebut sangat). Secara logika sederhana, dua buah angka 10 menghasilkan rata-rata 10, demikian juga dengan rata-rata dua buah angka masing 12 dan 8, atau 14 dan 6, atau 18 dan 2.

Lalu pertanyaannya, apakah demikian hasil dari adanya pendidikan berstandar tinggi tersebut? Bagaimanah tanggung jawab moral para lulusan berstandar internasional tersebut, bagaimanakah bentuk pengabdian masyarakat kampus-kampus terakreditasi internasional tersebut,  mana hasil nyata jurnal-jurnal ilmiah yang ribuan terpublikasikan setiap tahunnya?

Ternyata persaingan standar tersebut belum mampu menjawab tantangan yang dihadapi oleh bangsa ini dari dalam. Standar pendidikan internasional belum mampu menyejahterakan bangsa namun bagai pedang bermata dua juga turut andil dalam mendatangkan tantangan-tantangan yang lebih berat bagi bangsa. Tantangan yang tentu saja beresiko menjerumuskan bangsa.

Penguasaan pendidikan saat ini bersifat selfcentered dan lebih berat dalam penanaman high self esteem daripada pencarian solusi bersama yang nyata. Akhirnya, saat ini pendidikan tak ubahnya seperti komoditas perdagangan. Ilmu yang didapatkan oleh orang-orang yang tentu saja mampu secara finansial untuk mendapatkan pendidikan yang berkualitas tinggi, hanya termanfaatkan kembali secara individual. Ya, karena pendidikan berkualitas tinggi tentu saja butuh biaya besar.

Dan pada akhirnya hal inilah yang membuat bangsa ini memiliki kegemukan, padahal di sisi lain mengalami kekurangan. “Pendidikan elit” yang menghasilkan lulusan dengan standar kualitatif tinggi dengan berbagai jurnah dan makalah ilmiah dan berbagai produk teknologi tinggi lainnya belum berhasil menyelesaikan berbagai permasalahan bangsa di skala mikro. “Pendidikan elit” tampak menjauhkan individu dari lingkungan alam dan sosialnya dengan mungkin hanya mengorientasikan pencapaian pribadi demi egoisme individual. “Pendidikan elit” tak ubahnya seperti ekonomi kapitalis, memakmurkan orang yang sudah makmur dan memiskinkan orang yang sudah miskin. Orang miskin tidak mampu membiayai pendidikan dan akhirnya terjebak dalam lingkaran setan kemiskinan.

Kondisi ini tak ubahnya seperti orang yang sedang kegemukan, pendidikan elit menjamur padahal di ujung pulau, di perbatasan anak-anak kecil harus berjuang di bawah atap yang jebol dan dinding yang reyot. Kegemukan yang menandakan pencapaian IPTEK yang tinggi namun tidak diimbangi dengan kontribusi nyata yang bermanfaat. Inefisiensi metabolisme yang akhirnya menjadi sebuah penyakit. Penyakit yang menurut saya karena pencapaian IPTEK tidak diimbangi dengan pendidikan karakter dan kepekaan sosial yang mumpuni. Dan tumpukan lemak itu, bila dibiarkan bisa memicu kanker, penyakit yang luar biasa berbahaya.

Saya bukan tidak setuju dengan adanya cita-cita bahwa lulusan terdidik harus mampu bersaing di dunia internasional. Tentu saja saya sangat berharap bahwa bangsa kita menjadi bangsa kuat, tidak sebagian saja, tapi seluruh putra bangsa mampu bersaing dengan bangsa lain. Ini bukanlah sebuah pesimisme, ini adalah sebuah pengingat. Ini adalah harapan akan hadirnya pembuktian. Sudah saatnya kita “bakar” lemak kita menjadi energi. Kita “utilisasikan” keilmuan dengan kerja nyata demi masyarakat yang lebih baik, demi mencapai masyarakat madani, dengan kesejahteraan yang adil dan kemakmuran yang merata.

Dan jika tidak bisa berbuat apa-apa, setidaknya kita peduli dan berdo’a. Mungkin itulah selemah-lemah iman…

(diambil dari alisarda.blogspot.com)

Allahumma inni as-aluka ‘ilman naafi’aa…
Yaa, Allah, aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat…

(saya akan sangat merasa berterima kasih bila ada yang meninggalkan komentar atau memberi pandangan lain)

Patah Tulang

9 February 2012

Beberapa waktu yang lalu saya membuat sebuah keputusan yang heboh yang akhirnya membuat banyak orang bertanya-tanya. Sebetulnya karena tidak ingin banyak yang bertanya, saya hanya memberi kabar kepada kawan dekat saya dengan asumsi saya akan kembali ke kampus dengan kondisi “tampak” baik-baik saja. Namun keadaan tidak seperti yang diharapkan. Alih-alih saya berjalan dengan tampang datar dan biasa-biasa saja, saya harus ke kampus dengan tangan kanan di dalam gendongan arm sling dan pertanyaan pun berdatangan, hahaha..

Yep, banyak yang tanya, ” tangan lo kenapa ga?”, atau “yu, lo abis kecelakaan?”. Saya kesulitan untuk menjelaskan karena ceritanya agak panjang. Akhirnya saya menjawab dengan bercanda, “korban tabrak xen*a“, atau “abis berantem“, hehe..

Jadi, begini kronologis yang sebenarnya. Kejadian ini bermula saat saya masih duduk di bangku kelas dua SMP. Pada waktu itu alat transportasi utama saya untuk berangkat dan pulang sekolah adalah sepeda (sepedanya hilang di Bandung dicuri orang). Suatu sore setelah pulang dari latihan pramuka menjelang lomba tingkat, saya pulang dengan membawa beban lebih berat di dalam tas saya (perlengkapan latihan). Baru beberapa ratus meter dari gerbang sekolah, saya hilang konsentrasi hingga akhirnya menabrak trotoar dan terpelanting. Awalnya saya merasa tidak ada masalah. Hingga saya menyadari ada yang aneh dengan tangan saya yang ternyata bengkok akibat mengalami fisura (retak tulang).  Walhasil, tangan kanan saya dibalut gips selama satu bulan dan harus melewatkan banyak hal.

Singkat cerita, setelah sebulan, gips dibuka. Dan betapa syoknya saya saat melihat bahwa tangan kanan saya tetap bengkok. Ternyata treatment darurat yang saya alami dulu kurang baik sehingga penempatan tulangnya tidak sempurna dan akhirnya tulang saya bengkok. Di situlah saya mulai merasakan trauma. Tidak hanya trauma fisik karena tulang yang bengkok dan limitasi otot, tetapi juga trauma batin. Trauma batin karena saya melewatkan banyak kesempatan yang menurut saya terbuang sia-sia waktu itu (tidak jadi ikut lomba tingkat dan dieliminasi dari kelas unggulan karena tidak mengikuti beberapa ujian) dan menyadari adanya keterbatasan fisik yang membuat saya tidak dapat melakukan beberapa hal. Dokter sempat menawarkan untuk memperbaiki namun trauma membuat saya tidak memiliki KEBERANIAN. Dan sejak itu pula saya tidak mau lagi bercita-cita menjadi dokter.

Hingga terjadi titik balik yang membuat saya memberanikan diri membuat perubahan. Pada awal tingkat empat, tangan saya mulai rajin mengalami sakit dan gampang lelah. Setelah diperiksakan ke dokter, ternyata otot saya nyelempit akibat tulang yang tidak pas sehingga gampang kram. Dari situlah, saya mulai bertanya kepada orang tua saya untuk melakukan operasi, untuk memperbaiki tulang saya dan (harapannya) menghilangkan trauma dan ketakutan saya. Operasi tentunya memakan biaya dan butuh waktu recovery dan ini adalah opsi yang harus segera diputuskan.

Dan tibalah saat operasi. Entah berapa lama berlalu untuk berpikir, tau-tau saya sudah berada di ruang operasi. Dan di bawah lampu operasi ini, di mana otak saya sudah berkata, “tanggung semua konsekuensi, no way back“, saya mulai berpikir (yang mikirnya dilanjutkan setelah bangun dari efek bius).

Bahwa hidup ini adalah kombinasi dari begitu banyak pilihan. Setiap pilihan menghasilkan berbagai macam konsekuensi (yang harus disikapi dengan bijak dan disyukuri apapun bentuknya). Dan kemudian setiap konsekuensi akan mengantarkan kepada pilihan-pilihan berikutnya. Di setiap adanya pilihan, dibutuhkan optimisme, kesiapan dan ketegasan dalam menentukan. Dan di baliknya dibutuhkan kebijakan. Dua hal tersebut dibutuhkan untuk melangkah. Tanpanya hidup hanya berisi kebimbangan dan kekecewaan, dan turun menjadi penyakit hati lainnya tanpa adanya progresifitas, tanpa semangat dan karya nyata.

Pen terpasang di tulang saya


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.