Archive for November, 2011

Wisuda Oktober Himatek

7 November 2011

Wisuda Himatek kali ini membawa tema (yang menurut saya campur-aduk) Yunani-Romawi-Spartan. Dan wisuda Oktober, selalu menjadi perayaan wisuda yang sangat meriah. Meriah karena selalu diramaikan oleh mahasiswa tingkat dua yang baru masuk prodi dan merupakan calon-calon anggota Himatek. Karena orang-orang muda inilah, yang masih punya semangat tinggi dengan akal sehat yang masih bersih dan encer, perayaan menjadi lebih ramai, kreatif, dan penuh ide.

Perayaan syukuran dilaksanakan pada hari Jumat malam tanggal 28 Oktober 2011, setelah sebelumnya pada sore hari diadakan pula syukuran oleh Prodi Teknik Kimia. Wisudawan disambut dari zona tengah “double helix” lantai dua dengan suguhan fragmen peperangan antara Sparta dan Persia. Setelah Persia berhasil dikalahkan, wisudawan-wisudawati disambut oleh gadis-gadis Yunani yang diperankan oleh TK’10 putri. Mulailah berbagai macam penampilan seni syukuran wisuda.

Penampilan seni diselingi oleh kisah mitologi Yunani, yaitu Hercules. Tentu saja ceritanya dipleset-plesetkan dengan kehidupan Teknik Kimia ITB (subjur, labtek, kompre, dan lain-lain). Penampilan-penampilan lain seperti band dan tarian ditampilkan pula oleh TK’10, TK’09, TK’08, dan TK’07. Penampilan-penampilan begitu meriah berlangsung hingga sekitar pukul 23.00. Acara kemudian dilanjutkan dengan “momen 2007”. Wisuda oktober ini memang didominasi oleh kelulusan angkatan 2007 karena angkatan yang lebih tua umumnya sudah lulus terlebih dahulu. Foto-foto kenangan dan pesan-pesan selamat disampaikan. Bahkan beberapa orang 2007 yang melanjutkan studi ke luar negeri (Perancis, Korea Selatan, dan Jepang) ikut mengirimkan video ucapan selamat bagi 2007 yang diwisuda.

Sedikit membawa kenangan bagi saya juga, karena angkatan 2007 juga memiliki andil dalam pengembangan diri saya di Himatek.

Hebohnya, acara syukwis kali ini baru benar-benar berakhir pukul 12.00 lebih (hitungannya sudah dini hari). Melebihi wisuda Oktober 2009 yang dulu ikut saya kerjakan.

Keesokan harinya, kami mengarak wisudawan-wisudawati dari Sabuga hingga ke kampus. Sempat ada ide untuk mengarak melalui luar kampus. Namun ide tersebut urung dilaksanakan. Dengan kostum yang sama dengan malam syukwis, TK’10 sudah bersiap lebih dulu. Alat-alat dipersiapkan dan yel-yel dilatih. Tidak seperti biasanya, kami memulai arak-arakan pada urutan kedua setelah SR (biasanya urutan akhir). Massa himpunan mengarak wisudawan-wisudawati dari belakang, dan TK’10 memimpin parade di depan.

Di gerbang depan kampus gajah wisudawan-wisudawati kembali disuguhi oleh fragmen peperangan Sparta versus Persia yang kali ini lebih heboh dari sebelumnya. Kahim kami berorasi untuk melepas wisudawan-wisudawati. Arak-arakan dilanjutkan dengan beberapa kali menyanyikan Mars Himatek. Pelepasan benar-benar dilakukan di depan cermin double-helix dengan melempar topi dan berfoto.

Selamat!

Wisuda – Sumpah Pemuda

6 November 2011

28 Oktober 2011, sarjana-sarjana teknik kimia baru terlahir ke dunia, siap untuk bekerja menggerakkan roda-roda pembangunan Indonesia. Perayaan wisuda kali ini cukup berkesan bagi saya, bahkan sebelum rangkaian acara syukuran dimulai.

Tanggal sidang wisuda yang akan dilaksanakan pada 29 Oktober 2011 telah saya ketahui sejak sebulan sebelumnya, sekitar minggu terakhir bulan September. Awalnya, isu yang beredar, sidang wisuda akan dilaksanakan pada 15 Oktober 2011. Tapi ternyata, diumumkan secara resmi bahwa sidang akan dilaksanakan dua minggu kemudian. Praktis jauh dari waktu ujian komprehensif Program Studi Teknik Kimia yang pada minggu awal Oktober.

Entah memang isu yang beredar itu hanya sekedar kabar burung atau tanggal wisuda benar-benar berubah, tiba-tiba saya merasa bersemangat untuk menyambut hari syukuran wisuda 2011. Saya mencoba mengingat-ingat apa yang terjadi di sekitar tanggal itu. Aha! 28 Oktober! Hari peringatan Sumpah Pemuda. Dan itu bertepatan dengan wisuda. Sungguh suatu kebetulan yang menakjubkan bagi saya.

SOEMPAH PEMOEDA
Pertama :
- KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA MENGAKOE BERTOEMPAH DARAH JANG SATOE, TANAH AIR INDONESIA

Kedua :
- KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA, MENGAKOE BERBANGSA JANG SATOE, BANGSA INDONESIA

Ketiga :
- KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA MENGJOENJOENG BAHASA PERSATOEAN, BAHASA INDONESIA

83 tahun yang lalu, pada hari itu, sekelompok pemuda mengikrarkan sebuah sumpah. Sumpah pemersatu pemuda-pemuda Indonesia untuk mulai berjuang bersama melawan imperialisme, mencapai kemerdekaan. Seperti yang saya dapat dari buku-buku sejarah dan pelajaran-pelajaran (umumnya SMA), bahwa sebelum memasuki abad 20 perjuangan bangsa Indonesia melawan penjajah bersifat tradisional kedaerahan. Orang Jawa hanya berjuang demi pembebasan Pulau Jawa saja, orang Sumatera untuk Pulau Sumater, Kalimantan, Sulawesi, dan lain-lain. Belum lagi bila dalam satu pulau terbagi lagi menjadi beberapa daerah-daerah kerajaan. Maka perjuangan dilakukan hanya untuk membebaskan kerajaan-kerajaan itu saja.

Maka memasuki abad 20, pemuda-pemuda pejuang mulai mendapatkan pencerahan dan pencerdasan. Beberapa tokoh akhirnya mendapat kesempatan belajar lebih hingga ke Eropa (Belanda pada umumnya) dan mulai menyadari pentingnya persatuan. Maka mulai lenyaplah faktor-faktor primodial yang menjiwai perjuangan kedaerahan selama ini. Dan konsep-konsep negara Indonesia yang bersatu mulai bermunculan.

Menggerakkan perekonomian, membangun industri dan pemukiman, membentangkan jaringan jalan, serta membuat pelabuhan, merupakan hal mudah. Hal mudah yang dapat diselesaikan dengan cara-cara teknis matematis. Hal mudah, relatif terhadap usaha-usaha menyatukan pemuda. Persatuan yang melewati batas-batas agama, kesukuan, kesamaan perangai, dan adat istiadat, serta mungkin kepentingan. Entah kenapa, saya begitu mengapresiasi konsep-konsep persatuan. Persatuan yang menggandeng keragaman. Bisa dibayangkan, untuk bersatu, diperlukan kerelaan melepas ego dan kebanggaan semu, rela menerima perbedaan, dan berkorban untuk kepentingan bersama.

Kembali saya teringat pada rangkaian kata-kata di Plaza Widya, bahwa sarjana-sarjana ITB tidak hanya harus menjadi pelopor pembangunan, tetapi juga pelopor persatuan. Sebuah tanggung jawab yang berat itu diusung oleh sarjana-sarjana muda yang kami hibur dan kami arak. Ya, mungkin, perayaan yang kami adakan sedikit melonggarkan urat-urat bahu wisudawan. Untuk kemudian bersiap bergerak menjunjung tanggung jawab berat tersebut. Di tengah tantangan zaman, di mana persatuan mulai dipertanyakan, keberagaman menjadi isu perpecahan, dan kepentingan golongan yang semu dan serakah seolah didewakan.

Prasasti Plaza Widya Nusantara

Selamat berjuang, kakak-kakakku. Kelak kami akan menyusul dan mendukungmu..!!


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.